Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

  • DETERMINAN THE SINGLE INTEREST

    0


    Determine the single interest

    (Mirna Sahara,
    160103070)



    Formula Calculating Single Interest

    Suppose we save or borrow money with initial capital (M)
    with a term (i) per period over (n) periods, the magnitude of a single interest (B) can be calculated by the formula:
    Interest = number of periods × interest rate per period × initial capital.
    B = n × i × M


    Problems example :
    1). A capital of Rp1,000,000.00 is levied with a single interest rate of 2% / month. Determine the interest after 1 month, 2 months, and 5 months!

    Resolution:
    *). Given: M = 1.000.000 and i = 2% = 2/100
    *). Determining interest after 1 month (n = 1)
    B = n × i × M = 1 × 2/100 × 1,000,000 = 20,000
    *). Determining interest after 2 months (n = 2)
    B = n × i × M = 2 × 2/100 × 1,000,000 = 40,000
    *). Determining interest after 5 months (n = 5)
    B = n × i × M = 5 × 2/100 × 1,000,000 = 100,000

    Vital Records :
    *). From the formula B = n × i × M, the main condition is the period must be the same (same time unit).
    *). The modified unit may be i or unit n so that the same.
    *). Suppose a few cases below:
    i). Given the interest rate (i) per year and t in the year,
    then B = t × i × M
    ii). The interest rate (i) per year and t in months,
    then n = t/12 years,
    so B = t/12 × i × M
    iii). The interest rate  (i) per year and t in days,
    then n = t/360 years (assume 1 year = 360 days),
    so B = t/360 × i × M
    iv). Given the interest rate (i) per month and t in the year,
    then n = 12 × t months,
    so B = 12 × t × i × M
    v). Given the interest rate (i) per month and t in months,
    then n = t months,
    so B = t × i × M
    vi). Given the interest rate (i) per month and t in days,
    then n = t/30 months (assume 1 month = 30 days),
    so B = t/30 × i × M

    Problems example :
    2). Budi saves in the bank of Rp1,000,000 with a single interest rate of 6% per  year. Determine the amount of interest after saving for 3 years, 3 months, and 36 days (assume 1 year = 360 days)!

    Resolution:
    *). Given: M = 1,000,000 and i = 6% = 6/100 per year.
    *). Interest after 3 years:
    n = 3 years and the unit is equal to i ie interest rate per year.
    B = n × i × M = 3 × 6/100 × 1,000,000 = 180,000
    *). Interest after 3 months:
    n = 3 months = 3/12 = 1/4 years.
    B = n × i × M = 14 × 6/100 × 1,000,000 = 15,000
    *). Interest after 36 days:
    n = 36 days = 36/360 = 110 years.
    B = n × i × M = 110 × 6/100 × 1,000,000


    Glossary

    Interest = the price to be paid to a customer who has a deposit to be paid by the borrower.
    The interest rate = the value of the loan expressed as a percentage of the principal at any agreed time.
    A single interest =  interest earned at the end of a specified period of time which does not affect the amount of borrowed capital.



  • KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

    0


    KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

    A.    Pengertian Kurikulum
          Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin “curriculum”, semula berarti “a running course, or race course, especially a chariot race course,” (Nasution, 1988: 9) Menurut pengertian ini, kurikulum adalah suatu arena “arena pertandingan” tempat belajar “bertanding” untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai “garis finish” berupa diploma, ijazah atau gelar sarjana. (Zais, 1976: 6-7).
          Selain itu ada juga yang mendefinisikan kurikulum itu, dengan pengertian yang luas, seperti yang diungkapkan oleh Alice Miel dalam bukunya Changing the Curriculum a Social Process, ia mengungkapkan: “ bahwa kurikulum juga meliputi gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.” (Miel, 1946: 10) Jadi, menurut ini kurikulum itu meliputi segla pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperoleh anak di sekolah.
    B.     Dasar-dasar  Kurikulum Pendidikan Islam
          Dua orang penulis pendidikan Islam, Al-Syaibani (1979:523-532) dan Abdul Mujib (2006:125-131) menetapkan dasar pokok bagi kurikulum tersebut sebagai berikut:
    1.      Dasar Religi
    Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan agama. Sehingga dasar religi menjadi dasar utama. Dasar ini ditetapkan berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Penetapan nilai-nila tersebut didasarkan pada Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan Tuhan untuk umat manusia. Nabi bersabda, «Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu dua perkara, yang jika .kamu berpegang teguh padanya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah (al-Qur›an) dan Sunnah Nabi-Nya». (HR.Hakim).
    2.      Dasar Falsafah
    Dasar filosofis menjadi penunjuk arah bagi tujuan pendidikan Islam. Sehingga kurikulum mengandung kebenaran sesuai dengan apa yang dikandung oleh pandangan hidup tersebut (Islam). Menurut Abdul Mujib (2006:126-128) dasar fiosofis ini membawa pada tiga dimensi, yaitu dimensi ontologis (objek atau sumber), dimensi epistemologis (cara), dan dimensi aksiologis (manfaat). Uraiannya sebagai berikut :
    1.      Dimensi ontologis. Dimensi ini mengarahkan peserta didik untuk berhubungan       langsung dengan objek yang dikaji. Baik yang berbentuk realitas fisik, ataupun realitas nonfisik (ghaib).
    2.      Dimensi epistemologis. Epistemologis menyangkut bagaimana kurikulum dibentuk dan esensi atau konten kurikulum yang dapat mengarahkan cara memperoleh pengetahuan bagi siswa. Dan kurikulum dinilai valid apabila didasarkan pendekatan ilmiah. Jadi kurikulum harus bersifat universal, reflektif dan kritis sehingga dimensi ini berimplikasi pada rumusan kurikulum.
    3.      Dimensi aksiologis. Manfaat (aksiologis) dari perumusan kurikulum Pendidikan Islam yang didasari dengan falsafah adalah untuk terciptanya tujuan ideal dari pandangan hidup manusia. Dalam hal ini Islam. Alhasil aksiologisnya didasarkan pula pada idealitas keberhasilan dalam Islam.
    Ada beberapa sebutan atau klasifikasi keberhasilan hidup seseorang (pribadi) dalam Islam, diantaranya, insan Kamil, Insan Kaffah, dan Insan yang menyadari kewajibannya. Allah Swt berfirman:
    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah:208)
    3.      Dasar Psikologis
    Dasar psikologis kurikulum menurut pendidikan Islam memandang kondisi     peserta didik berada pada dua posisi, yaitu sebagai anak yang hendak dibina dan     sebagai pelajar yang hendak mengikuti proses pembelajaran. Dasar ini memberikan   landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembangan psikis peserta didik.
    4.      Dasar Sosiologis
    Dasar ini berimplikasi pada kurikulum pendidikan supaya kurikulum yang dibentuk
    Hendaknya dapat membantu pengembangan masyarakat. Terutama karena pendidikan berfungsi sebagai sarana transfer of culture (pelestarian kebudayaan), proses sosialisasi individu dan rekontruksi sosial.
    5.      Dasar Organisatoris
    Dasar ini menjadi acuan dalam bentuk penyajian bahan pelajaran. Dasar ini berpijak pada teori psikologi asosiasi yang menganggap keseluruhan sebagai kumpulan dari bagian-bagiannya. Dan juga berpijak pada teori psikologi Gestalt yang menganggap keseluruhan mempengaruhi oraganisasi kurikulum yang disusun secara sistematis tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Namun, kedua psikologi ini memiliki kekurangan dan kelebihan.
          Herman H. Horne memberikan dasar bagi penyusunan kurikulum dengan tiga macam yaitu :
    1.      Dasar Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children);
    2.      Dasar sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang syah dari masyarakat (the legitimate demands of society);
    3.      Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we live) (Abdul Mujib, 2006:124). Selain teoritis filosofis penyusunan kurikulum haruslah berdasarkan asas-asas dan orientasi tertentu. S. Nasution (1991:24) berpendapat mengenai asas-asas penyusunan kurikulum meliputi asas filosofis, sosiologi, organisatoris dan psikologis. Asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan asas sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan materi pelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Asas organisatoris berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk pelajaran yang akan disusun, yang terakhir asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna oleh anak didik sesuai dengan tahap perkembangan.



  • HAKEKAT PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DAN MODEL INTERAKSI

    0


    HAKEKAT PENDIDIK
    Hakikat pendidik dalam Islam, adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun potensi psikomotor. Senada dengan ini, Mohammad
    Fadhli al-Jamali menyebutkan, bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusiakepada kehidupan yang lebih baik sehingga terangkat derajat manusianya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia (A. Tafsir, 1994:75).
    Pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah setiap orang dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada etiap orang, karena tanggung jawabnya atas pendidikan (Ramayulis, 2002:85-6).
               1.      Tugas dan Peran Pendidik
    Dalam Islam, tugas seorang pendidik dipandang sebagai sesuatu yang mulia. Secara umum, tugas pendidik adalah mendidik. Dalam operasionalisasinya, mendidik merupakan rangkaian proses mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, member contoh, membiasakan, dan lain sebagainya. Batasan ini memberi arti bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar sebagaimana pendapat kebanyakan orang. Di samping itu, pendidik juga bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta didik dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis (Hasan Langgulung, 1988:86-7).
    Muh.Uzer Usman (2003:7) menjelaskan bahwa tugas guru (pendidik) sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilanketerampilan pada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan hendaknya dapat motivasi bagi siswanya dalam belajar.
    Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, mengajar, dan melatih. Secara terminologis akademis, mendidik, membimbing, mengajar,melatih, dapat dijelaskan sebagai berikut:
    1.      Mendidik
    -          Isi : Moral dan kepribadian
    -          Proses : Memberikan motivasi untuk belajar dan mengikuti ketentuan atau tata tertib
    yang telah disepakati
    -          Strategi  dan metode : motivasi dam pembinaan
    2.      Membimbing
    -          Isi : norma dan tertib
    -          Proses : Menyampai-kan atau mentransfer bahan ajar yang berupa ilmu pengetahuan, teknologi,dan seni dengan menggunakan strategi dan metode mengajar yang sesuai dengan perbedaan individual siswa
    -          Strategi dan metode : motivasi dan pembinaan
    3.      Mengajar
    -          Isi : bahan ajar berupa ilmu pengetahuan dan tekhnologi
    -          Proses : Memberikan contoh kepadasiswa atau mempraktik-kan keterampilan tertentu atau menerapkan konsep yang telah diberikan kepada siswa menjadi kecakapan yangdapat digunakan dalam kehidupan
    sehari-hari.
    -          Strategi dan metode : ekspositori dan enkuiri
    4.      Melatih
    -          Isi : keterampilan atau kecakapan hidup ( life skill )
    -          Proses : menjadi contoh dan tauladan dalam hal moral dan kepribadian
    -          Strategi dan metode : praktik kerja, simulasi, magang






    HAKEKAT PESERTA DIDIK
    1.      Hakekat Peserta Didik
    Secara bahasa peserta didik adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan
    dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupaka ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan yang menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
    2.      Kepribadian peserta didik
    Keperibadian anak didik dijelaskan oleh Abuddin Nata (2006:136) yang mengutip
    pendapat Thasyi Kubra Zaedah mengatakan bahwa seorang peserta didik tidak diperbolehkan menilai rendah atau menganggap tidak penting terhadap ilmu pengetahuan
    yang ia tidak kuasai ataupun tidak ia senangi. Sebaliknya, peserta didik harus menggangap bahwa ilmu yang tidak dikuasainya itu sama manfaatnya dengan ilmu yang ia miliki.
    Kepribadian peserta didik yang paling penting menurut Athiyah al-Abrasyi yaitu; Pertama, peserta didik hendaknya tekun dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kedua, peserta didik haruslah memiliki kepribadian saling menyayangi sesama temanya yang pada akhirnya akan tercipta suasana persaudaraan yang kokoh. Ketiga, peserta didik
    giat dan tidak perna bosan untuk selalu mengkaji dan mengulang-ulangi materi pelajaran yang telah diberikannya.
    3.      Etika dan kebutuhan peserta didik
    Etika peserta didik merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan baik secara langsung maupun tidak langsung, al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Fhatiyah Hasan Sulaeman (1986:39-43) merumuskan sepuluh kewajiban peserta didik diantaranya sebagai berikut:
    1. Belajar dengan niat ibadah untuk selalu mendekatkan kepada Allah Swt dengan niat
    ikhlas. Faktor terpenting yang harus dimiliki peserta didik adalah kesucian jiwa karena
    hal ini akan menghindari murid dari sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran
    agama;
    2. Mengurangi kecendrungan pada urusan dunia tetapi lebih mengutamakan pada urusan akhirat. Karena kecintaan terhadap urusan dunia akan menyebabkan mental-mental materialism;
    3. Memiliki keperibadian tawadhu (rendah hati) dengan lebih mengutamakan kepentingan pendidikan daripada kepentingan pribadi. Peserta didik haruslah memiliki ilmu seperti padi ‘semakin berisi semakin merunduk’;
    4. Menghindari pikiran-pikiran yang dapat mempengaruhi kebimbangan peserta didik yang timbul dari berbagai aliran;
    5. Lebih mengutamakan ilmu-ilmu yang terpuji baik itu ilmu duniawi ataupun ukhrowi;
    6. Menuntut ilmu secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik;
    7. Menuntut ilmu secara tuntas sampai memahami materi yang dipelajari, kemudian mempelajari ilmu yang lain sehingga peserta didik lebih memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam;
    8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu yang dipelajarinya;
    9. Lebih memprioritaskan ilmu diniyah sebelum mempelajari ilmu duniawi, dengan bekal ilmu diniyah, peserta didik memiliki bekal ilmu agama yang akan mengarahkan kepada akhlak yang baik;
           4. kewajiban peserta didik
    Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya:
    1. Kebutuhan Fisik
    Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan fisik yang cepat terutama pada masa puberitas. Kebutuhan biologis, yaitu berupa makan, minum dan istirahat, dimana hal ini menuntut peserta didik untuk memenuhinya.
    2. Kebutuhan Sosial
    Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara wajar.
    3. Kebutuhan untuk mendapatkan status
    Peserta didik pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri.
    4. Kebutuhan Mandiri
    Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang
    tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.

    5. Kebutuhan untuk berprestasi
    Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status
    dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi.
    6. Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai
    Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental peserta didik. Banyak
    anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, guru dan lain-lainnya mengalami prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan
    dari Allah Swt.
    7. Kebutuhan untuk mencurahkan perasaan
    Kebutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yang dialami, dirasakan terutama dalam masa pubertas.
    8. Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
    Peserta didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan
    bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Karena itu mereka membutuhkan pengetahuanpengetahuan yang jelas sebagai suatu filsafat hidup yang memuaskan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan ini.
    9. Dimensi Fisik (Jasmani)
    Zakiah Daradjat sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2006:82) membagi manusia kepada tujuh dimensi pokok yamg masing-masingnya dapat dibagi kepada dimensidimensi kecil. Ketujuh dimensi tersebut adalah : dimensi, akal, agama, akhlak, kejiawaan, rasa kaindahan dan sosial kemasyarakatan Semua dimensi tersebut harus tumbuh kembangkan melalui pendidikan Islam.



    MODEL INTERAKSI PENDIDIK
    DAN PESERTA DIDIK DALAN PENDIDIKAN

    Zakiyah Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak   memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang utuh.
    Bila dikaitkan dengan pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah adanya hubungan antara pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa jadi selalu dalam satu kesatuan dalam tujuan yang sama. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh siswa secara utuh dan tentunya tujuan pembelajaran akan mudah tercapai.
    Pola Interaksi Deduktif
    Zakiyah Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat.
    Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang utuh. Bila dikaitkan dengan pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah adanya hubungan antara pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa jadi selalu dalam satu kesatuan dalam tujuan yang sama.
    Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh siswa secara utuh dan tentunya tujuan pembelajaran akan mudah tercapai.
    Zakiyah Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat.
    Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang utuh. Bila dikaitkan dengan pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah adanya hubungan antara pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa jadi selalu dalam satu kesatuan dalam tujuan yang sama. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh siswa secara utuh dan tentunya tujuan pembelajaran akan mudah tercapai
  • Copyright © - Pendidikan Matematika Kebutuhanku

    Pendidikan Matematika Kebutuhanku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan