Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
DETERMINAN THE SINGLE INTEREST
0
Formula Calculating Single Interest
Problems example :
1). A capital of Rp1,000,000.00 is levied with a single interest rate of 2% / month. Determine the interest after 1 month, 2 months, and 5 months!
Resolution:
*). Given: M = 1.000.000 and i = 2% = 2/100
*). Determining interest after 1 month (n = 1)
B = n × i × M = 1 × 2/100 × 1,000,000 = 20,000
*). Determining interest after 2 months (n = 2)
B = n × i × M = 2 × 2/100 × 1,000,000 = 40,000
*). Determining interest after 5 months (n = 5)
B = n × i × M = 5 × 2/100 × 1,000,000 = 100,000
Vital Records :
*). From the formula B = n × i × M, the main condition is the period must be the same (same time unit).
*). The modified unit may be i or unit n so that the same.
*). Suppose a few cases below:
i). Given the interest rate (i) per year and t in the year,
then B = t × i × M
ii). The interest rate (i) per year and t in months,
then n = t/12 years,
so B = t/12 × i × M
iii). The interest rate (i) per year and t in days,
then n = t/360 years (assume 1 year = 360 days),
so B = t/360 × i × M
iv). Given the interest rate (i) per month and t in the year,
then n = 12 × t months,
so B = 12 × t × i × M
v). Given the interest rate (i) per month and t in months,
then n = t months,
so B = t × i × M
vi). Given the interest rate (i) per month and t in days,
then n = t/30 months (assume 1 month = 30 days),
so B = t/30 × i × M
Problems example :
2). Budi saves in the bank of Rp1,000,000 with a single interest rate of 6% per year. Determine the amount of interest after saving for 3 years, 3 months, and 36 days (assume 1 year = 360 days)!
Resolution:
*). Given: M = 1,000,000 and i = 6% = 6/100 per year.
*). Interest after 3 years:
n = 3 years and the unit is equal to i ie interest rate per year.
B = n × i × M = 3 × 6/100 × 1,000,000 = 180,000
*). Interest after 3 months:
n = 3 months = 3/12 = 1/4 years.
B = n × i × M = 14 × 6/100 × 1,000,000 = 15,000
*). Interest after 36 days:
n = 36 days = 36/360 = 110 years.
B = n × i × M = 110 × 6/100 × 1,000,000
Determine the single interest
(Mirna Sahara, 160103070)
(Mirna Sahara, 160103070)
Formula Calculating Single Interest
|
Suppose we save or borrow money with initial
capital (M)
with a term (i) per period over (n) periods, the magnitude of a single interest (B) can be calculated by the formula: Interest = number of periods × interest rate per period × initial capital. B = n × i × M |
Problems example :
1). A capital of Rp1,000,000.00 is levied with a single interest rate of 2% / month. Determine the interest after 1 month, 2 months, and 5 months!
Resolution:
*). Given: M = 1.000.000 and i = 2% = 2/100
*). Determining interest after 1 month (n = 1)
B = n × i × M = 1 × 2/100 × 1,000,000 = 20,000
*). Determining interest after 2 months (n = 2)
B = n × i × M = 2 × 2/100 × 1,000,000 = 40,000
*). Determining interest after 5 months (n = 5)
B = n × i × M = 5 × 2/100 × 1,000,000 = 100,000
Vital Records :
*). From the formula B = n × i × M, the main condition is the period must be the same (same time unit).
*). The modified unit may be i or unit n so that the same.
*). Suppose a few cases below:
i). Given the interest rate (i) per year and t in the year,
then B = t × i × M
ii). The interest rate (i) per year and t in months,
then n = t/12 years,
so B = t/12 × i × M
iii). The interest rate (i) per year and t in days,
then n = t/360 years (assume 1 year = 360 days),
so B = t/360 × i × M
iv). Given the interest rate (i) per month and t in the year,
then n = 12 × t months,
so B = 12 × t × i × M
v). Given the interest rate (i) per month and t in months,
then n = t months,
so B = t × i × M
vi). Given the interest rate (i) per month and t in days,
then n = t/30 months (assume 1 month = 30 days),
so B = t/30 × i × M
Problems example :
2). Budi saves in the bank of Rp1,000,000 with a single interest rate of 6% per year. Determine the amount of interest after saving for 3 years, 3 months, and 36 days (assume 1 year = 360 days)!
Resolution:
*). Given: M = 1,000,000 and i = 6% = 6/100 per year.
*). Interest after 3 years:
n = 3 years and the unit is equal to i ie interest rate per year.
B = n × i × M = 3 × 6/100 × 1,000,000 = 180,000
*). Interest after 3 months:
n = 3 months = 3/12 = 1/4 years.
B = n × i × M = 14 × 6/100 × 1,000,000 = 15,000
*). Interest after 36 days:
n = 36 days = 36/360 = 110 years.
B = n × i × M = 110 × 6/100 × 1,000,000
Glossary
Interest = the price to be
paid to a customer who has a deposit to be paid by the borrower.
The interest rate = the
value of the loan expressed as a percentage of the principal at any agreed
time.
A single
interest = interest earned at the end of
a specified period of time which does not affect the amount of borrowed
capital.
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
0
KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Kurikulum
Istilah
kurikulum berasal dari bahasa Latin “curriculum”,
semula berarti “a running course, or
race course, especially a chariot race course,” (Nasution, 1988: 9) Menurut
pengertian ini, kurikulum adalah suatu arena “arena pertandingan” tempat
belajar “bertanding” untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai “garis
finish” berupa diploma, ijazah atau gelar sarjana. (Zais, 1976: 6-7).
Selain
itu ada juga yang mendefinisikan kurikulum itu, dengan pengertian yang luas,
seperti yang diungkapkan oleh Alice Miel dalam bukunya Changing the Curriculum a Social Process, ia mengungkapkan: “ bahwa
kurikulum juga meliputi gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan,
pengetahuan, dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah, yakni
anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.” (Miel, 1946: 10) Jadi,
menurut ini kurikulum itu meliputi segla pengalaman dan pengaruh yang bercorak
pendidikan yang diperoleh anak di sekolah.
B. Dasar-dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Dua
orang penulis pendidikan Islam, Al-Syaibani (1979:523-532) dan Abdul Mujib (2006:125-131)
menetapkan dasar pokok bagi kurikulum tersebut sebagai berikut:
1. Dasar
Religi
Pendidikan
Islam adalah pendidikan yang berdasarkan agama. Sehingga dasar religi menjadi
dasar utama. Dasar ini ditetapkan berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Penetapan nilai-nila
tersebut didasarkan pada Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan Tuhan untuk
umat manusia. Nabi bersabda, «Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu
dua perkara, yang jika .kamu berpegang teguh padanya, maka kamu tidak akan
tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah (al-Qur›an) dan Sunnah
Nabi-Nya». (HR.Hakim).
2. Dasar
Falsafah
Dasar
filosofis menjadi penunjuk arah bagi tujuan pendidikan Islam. Sehingga kurikulum
mengandung kebenaran sesuai dengan apa yang dikandung oleh pandangan hidup tersebut
(Islam). Menurut Abdul Mujib (2006:126-128) dasar fiosofis ini membawa pada
tiga dimensi, yaitu dimensi ontologis (objek atau sumber), dimensi
epistemologis (cara), dan dimensi aksiologis (manfaat). Uraiannya sebagai
berikut :
1. Dimensi
ontologis. Dimensi ini mengarahkan peserta didik untuk berhubungan langsung dengan objek yang dikaji. Baik
yang berbentuk realitas fisik, ataupun realitas nonfisik (ghaib).
2. Dimensi
epistemologis. Epistemologis menyangkut bagaimana kurikulum dibentuk dan esensi
atau konten kurikulum yang dapat mengarahkan cara memperoleh pengetahuan bagi
siswa. Dan kurikulum dinilai valid apabila didasarkan pendekatan ilmiah. Jadi kurikulum
harus bersifat universal, reflektif dan kritis sehingga dimensi ini
berimplikasi pada rumusan kurikulum.
3. Dimensi
aksiologis. Manfaat (aksiologis) dari perumusan kurikulum Pendidikan Islam yang
didasari dengan falsafah adalah untuk terciptanya tujuan ideal dari pandangan hidup
manusia. Dalam hal ini Islam. Alhasil aksiologisnya didasarkan pula pada
idealitas keberhasilan dalam Islam.
Ada
beberapa sebutan atau klasifikasi keberhasilan hidup seseorang (pribadi) dalam Islam,
diantaranya, insan Kamil, Insan Kaffah, dan Insan yang menyadari kewajibannya. Allah
Swt berfirman:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah:208)
3. Dasar
Psikologis
Dasar
psikologis kurikulum menurut pendidikan Islam memandang kondisi peserta didik berada pada dua
posisi, yaitu sebagai anak yang hendak dibina dan sebagai
pelajar yang hendak mengikuti proses pembelajaran. Dasar ini memberikan landasan
dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembangan psikis peserta
didik.
4. Dasar
Sosiologis
Dasar
ini berimplikasi pada kurikulum pendidikan supaya kurikulum yang dibentuk
Hendaknya
dapat membantu pengembangan masyarakat. Terutama karena pendidikan berfungsi
sebagai sarana transfer of culture (pelestarian kebudayaan), proses
sosialisasi individu dan rekontruksi sosial.
5. Dasar
Organisatoris
Dasar
ini menjadi acuan dalam bentuk penyajian bahan pelajaran. Dasar ini berpijak pada
teori psikologi asosiasi yang menganggap keseluruhan sebagai kumpulan dari bagian-bagiannya.
Dan juga berpijak pada teori psikologi Gestalt yang menganggap keseluruhan
mempengaruhi oraganisasi kurikulum yang disusun secara sistematis tanpa adanya
batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Namun, kedua psikologi ini memiliki
kekurangan dan kelebihan.
Herman H. Horne memberikan dasar bagi
penyusunan kurikulum dengan tiga macam yaitu :
1. Dasar
Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengetahui kemampuan yang diperoleh
dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children);
2. Dasar
sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang syah dari masyarakat (the
legitimate demands of society);
3. Dasar
Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup
(the kind of universe in which we live) (Abdul Mujib, 2006:124). Selain
teoritis filosofis penyusunan kurikulum haruslah berdasarkan asas-asas dan orientasi
tertentu. S. Nasution (1991:24) berpendapat mengenai asas-asas penyusunan kurikulum
meliputi asas filosofis, sosiologi, organisatoris dan psikologis. Asas
filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan asas
sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan materi pelajaran sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Asas organisatoris berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk
pelajaran yang akan disusun, yang terakhir asas psikologis berperan memberikan
berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai
aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna oleh anak
didik sesuai dengan tahap perkembangan.
HAKEKAT PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DAN MODEL INTERAKSI
0
HAKEKAT
PENDIDIK
Hakikat
pendidik dalam Islam, adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam perkembangan
peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik potensi
afektif, kognitif maupun potensi psikomotor. Senada dengan ini, Mohammad
Fadhli al-Jamali
menyebutkan, bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusiakepada
kehidupan yang lebih baik sehingga terangkat derajat manusianya sesuai dengan kemampuan
dasar yang dimiliki oleh manusia (A. Tafsir, 1994:75).
Pendidik
dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya
bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan
tanggung jawab dan amanat pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik
dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung jawab dan amanat adalah
setiap orang dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada
etiap orang, karena tanggung jawabnya atas pendidikan (Ramayulis, 2002:85-6).
1.
Tugas
dan Peran Pendidik
Dalam Islam, tugas seorang
pendidik dipandang sebagai sesuatu yang mulia. Secara umum, tugas pendidik
adalah mendidik. Dalam operasionalisasinya, mendidik merupakan rangkaian proses
mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, member contoh, membiasakan,
dan lain sebagainya. Batasan ini memberi arti bahwa tugas pendidik bukan hanya
sekedar mengajar sebagaimana pendapat kebanyakan orang. Di samping itu, pendidik
juga bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga
seluruh potensi peserta didik dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis
(Hasan Langgulung, 1988:86-7).
Muh.Uzer
Usman (2003:7) menjelaskan bahwa tugas guru (pendidik) sebagai profesi meliputi
mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai
hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilanketerampilan pada
siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan
dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi
idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan hendaknya dapat motivasi bagi
siswanya dalam belajar.
Guru
memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara kemampuan
mendidik, mengajar, dan melatih. Secara terminologis akademis,
mendidik, membimbing, mengajar,melatih, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mendidik
-
Isi : Moral
dan kepribadian
-
Proses : Memberikan motivasi
untuk belajar dan mengikuti ketentuan atau tata tertib
yang
telah disepakati
-
Strategi
dan metode : motivasi dam pembinaan
2. Membimbing
-
Isi : norma dan tertib
-
Proses : Menyampai-kan atau mentransfer bahan
ajar yang berupa ilmu pengetahuan, teknologi,dan seni dengan menggunakan
strategi dan metode mengajar yang sesuai dengan perbedaan individual siswa
-
Strategi dan metode : motivasi dan
pembinaan
3. Mengajar
-
Isi : bahan ajar berupa ilmu pengetahuan
dan tekhnologi
-
Proses : Memberikan contoh kepadasiswa
atau mempraktik-kan keterampilan tertentu atau menerapkan konsep yang telah
diberikan kepada siswa menjadi kecakapan yangdapat digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
-
Strategi dan metode : ekspositori dan
enkuiri
4. Melatih
-
Isi : keterampilan atau kecakapan hidup
( life skill )
-
Proses : menjadi contoh dan tauladan
dalam hal moral dan kepribadian
-
Strategi dan metode : praktik kerja,
simulasi, magang
HAKEKAT PESERTA DIDIK
1.
Hakekat
Peserta Didik
Secara bahasa peserta didik adalah orang yang sedang
berada pada fase pertumbuhan
dan
perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan
merupaka ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang
pendidik. Pertumbuhan yang menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
2.
Kepribadian
peserta didik
Keperibadian
anak didik dijelaskan oleh Abuddin Nata (2006:136) yang mengutip
pendapat Thasyi Kubra Zaedah mengatakan
bahwa seorang peserta didik tidak diperbolehkan menilai rendah atau menganggap
tidak penting terhadap ilmu pengetahuan
yang ia tidak kuasai ataupun tidak ia
senangi. Sebaliknya, peserta didik harus menggangap bahwa ilmu yang tidak
dikuasainya itu sama manfaatnya dengan ilmu yang ia miliki.
Kepribadian
peserta didik yang paling penting menurut Athiyah al-Abrasyi yaitu; Pertama,
peserta didik hendaknya tekun dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kedua,
peserta didik haruslah memiliki kepribadian saling menyayangi sesama temanya yang
pada akhirnya akan tercipta suasana persaudaraan yang kokoh. Ketiga,
peserta didik
giat dan tidak perna
bosan untuk selalu mengkaji dan mengulang-ulangi materi pelajaran yang telah
diberikannya.
3.
Etika
dan kebutuhan peserta didik
Etika peserta
didik merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan baik secara langsung maupun
tidak langsung, al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Fhatiyah Hasan Sulaeman (1986:39-43)
merumuskan sepuluh kewajiban peserta didik diantaranya sebagai berikut:
1. Belajar dengan niat ibadah untuk
selalu mendekatkan kepada Allah Swt dengan niat
ikhlas. Faktor terpenting yang harus
dimiliki peserta didik adalah kesucian jiwa karena
hal ini akan menghindari murid dari
sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan ajaran
agama;
2. Mengurangi kecendrungan pada urusan
dunia tetapi lebih mengutamakan pada urusan akhirat. Karena kecintaan terhadap
urusan dunia akan menyebabkan mental-mental materialism;
3. Memiliki keperibadian tawadhu (rendah
hati) dengan lebih mengutamakan kepentingan pendidikan daripada kepentingan
pribadi. Peserta didik haruslah memiliki ilmu seperti padi ‘semakin berisi
semakin merunduk’;
4. Menghindari pikiran-pikiran yang
dapat mempengaruhi kebimbangan peserta didik yang timbul dari berbagai aliran;
5. Lebih mengutamakan ilmu-ilmu yang
terpuji baik itu ilmu duniawi ataupun ukhrowi;
6. Menuntut ilmu secara bertahap sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik;
7. Menuntut ilmu secara tuntas sampai
memahami materi yang dipelajari, kemudian mempelajari ilmu yang lain sehingga
peserta didik lebih memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam;
8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu
yang dipelajarinya;
9. Lebih memprioritaskan ilmu diniyah
sebelum mempelajari ilmu duniawi, dengan bekal ilmu diniyah, peserta didik
memiliki bekal ilmu agama yang akan mengarahkan kepada akhlak yang baik;
4. kewajiban peserta didik
Banyak
kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya:
1. Kebutuhan Fisik
Fisik
peserta didik mengalami pertumbuhan fisik yang cepat terutama pada masa puberitas.
Kebutuhan biologis, yaitu berupa makan, minum dan istirahat, dimana hal ini menuntut
peserta didik untuk memenuhinya.
2. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan
sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta
didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh
teman-temannya secara wajar.
3. Kebutuhan untuk mendapatkan
status
Peserta
didik pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi
masyarakat. Kebanggaan terhadap diri.
4. Kebutuhan Mandiri
Peserta
didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang
tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan
mendisiplinkan dirinya sendiri.
5. Kebutuhan untuk berprestasi
Kebutuhan
untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status
dan mandiri. Artinya
dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan
kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar
prestasi.
6. Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai
Rasa
ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi
kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental peserta didik. Banyak
anak-anak yang tidak
mendapatkan kasih sayang dari orang tua, guru dan lain-lainnya mengalami
prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan
dari Allah Swt.
7. Kebutuhan untuk mencurahkan perasaan
Kebutuhan
untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide
dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yang
dialami, dirasakan terutama dalam masa pubertas.
8. Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
Peserta
didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai
ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan
bagaimana kebahagiaan
itu diperoleh. Karena itu mereka membutuhkan pengetahuanpengetahuan yang jelas
sebagai suatu filsafat hidup yang memuaskan yang sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan
ini.
9. Dimensi Fisik (Jasmani)
Zakiah
Daradjat sebagaimana dikutip oleh Ramayulis (2006:82) membagi manusia kepada
tujuh dimensi pokok yamg masing-masingnya dapat dibagi kepada dimensidimensi kecil.
Ketujuh dimensi tersebut adalah : dimensi, akal, agama, akhlak, kejiawaan, rasa
kaindahan dan sosial kemasyarakatan Semua dimensi tersebut harus tumbuh kembangkan
melalui pendidikan Islam.
MODEL INTERAKSI
PENDIDIK
DAN PESERTA DIDIK DALAN
PENDIDIKAN
Zakiyah
Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial
yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar
Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan
yang harmonis antara individu dengan masyarakat. Dalam pelaksanaan pembelajaran
dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan
potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang
utuh.
Bila
dikaitkan dengan pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah adanya
hubungan antara pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa jadi
selalu dalam satu kesatuan dalam tujuan yang sama. Dengan demikian proses
pembelajaran akan berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan oleh guru
dapat diterima oleh siswa secara utuh dan tentunya tujuan pembelajaran akan
mudah tercapai.
Pola
Interaksi Deduktif
Zakiyah
Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial
yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar
Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan
yang harmonis antara individu dengan masyarakat.
Dalam
pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan
potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang
utuh. Bila dikaitkan dengan pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah
adanya hubungan antara pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa
jadi selalu dalam satu kesatuan dalam tujuan yang sama.
Dengan
demikian proses pembelajaran akan berjalan dengan baik dan pesan yang
disampaikan oleh guru dapat diterima oleh siswa secara utuh dan tentunya tujuan
pembelajaran akan mudah tercapai.
Zakiyah
Darajat mengatakan bahwa model interaksi adalah suatu model interaksi sosial
yang terbentuk berdasarkan teori belajar Gestalt dan teori balajar
Area/Field-Theory. Model pembelajaran ini menitik beratkan pada suatu hubungan
yang harmonis antara individu dengan masyarakat.
Dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau
bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu kesatuan yang utuh. Bila dikaitkan dengan
pendidikan, model interaksi ini maksudnya adalah adanya hubungan antara
pendidik dengan siswanya, dan antara siswa dengan siswa jadi selalu dalam satu
kesatuan dalam tujuan yang sama. Dengan demikian proses pembelajaran akan
berjalan dengan baik dan pesan yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh
siswa secara utuh dan tentunya tujuan pembelajaran akan mudah tercapai