Kamis, 12 Oktober 2017
MAKALAH
“SUMBER-SUMBER
ILMU FIQIH”
Disusun
Oleh:
Kelompok
1
Nurhidayah
(160103071)
Sri
Astuti (160103081)
Yanti
Susanti (160103061)
Kelas
1C
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
Mata
Kuliah : Fiqih dan Ushul Fiqih
Dosen
: Bpk. Idris M.Pd.I
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, atas anugerah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Negara dan Pancasila.
sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang Negara dan Pancasila.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusuanan makalah
ini selain untuk menyelesaika tugas yang diberikan oleh dosen pengajar, juga
untuk lebih memperluas pengetahuan para mahasiswa dan mahasiswi khususnya bagi kami yang
menyusun. kami telah berusaha untuk dapat menyusun makalah ini dengan baik,
namun kami pun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan kami
sebagai manusia biasa.
Oleh
karena itu, jika didapati adanya kesalahan-kesalahan baik dari segi teknik
penulisan maupun dari isi, maka kami
memohon maaf dan kritik serta saran dari dosen pengajar bahkan untuk semua
pembaca, kami sangat mengharapkan untuk dapat menyempurnakan makalah ini,
terlebih juga dalam pengetahuan kita bersama. Harapan ini akan sangat
bermanfaat bagi kita semua
DAFTAR ISI
Daftar
Pustaka……………………………………………………………………… i
Daftar
Isi…………………………………………………………………………….. ii
Bab
I Pendahuluan…………………………………………………………………. 1
1.1 Latar
Belakang………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..... 2
Bab
II Pembahasan………………………………………………………………….
3
2.1
Sumber-sumber Ilmu Fiqih…………………………………………….
3
Bab
III Penutup……………………………………………………………………..
4
3.1
Kesimpulan……………………………………………………………... 4
3.2 Saran……………………………………………………………………. 5
Daftar
Pustaka…………………………………………………………………….... 6
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Sebagaimana kesepakatan seluruh ulama yang berbeda madzhab, bahwa seluruh
tindakan manusia (ucapan, perbuatan dalam ibadah dan muamalah) terdapat
hukum-hukumnya. Hukum-hukum tersebut sebagian telah dijelaskan di dalam
nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Meskipun sebagian yang lain belum terdapat
penjelasan, namun syari’at Islam telah memberikan dalil dan isyarat-isyarat
tersebut.
Para imam mazhab sepakat dengan
dalil yang dikemukakan Imam Syafi’i dalam kitab al-Risalah yakni
al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Pendapat tersebut benar adanyam namun
al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber hukum utama yang saling berkaitan dan
tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Tujuan mempelajari Ushul Fiqh ialah menerapkan kaidah-kaidah dan pembahasan
dalil-dalil secara detail dalam rangka
melahirkan hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalil tersebut. Adapun
dalam makalah ini lebih mengedepankan fungsi al-Qur’an dan as-Sunnah, karena
selruh ulama ushul fiqh tidak pernah melepaskan peran keduanya. Adapun ijma’
dan sebagainya, disebagian ulama tidak menggunakannya. Hal ini karena keyakinan
mereka bahwa tidak ada sumber melainkan dua sumber diatas
Hukum seluruhnya termaktub didalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai penjelas
al-Qur’an. Maka dari itu penting sekali bagi umat muslim untuk memahami
al-Qur’an dan as-Sunnah dalam perannya. Pada dasarnya kedua sumber inilah yang
selalu diutamakan dalam mencari ketetapan hukum.
Melalui tugas ini kami ingin
mengetahui sumber-sumber ilmu fiqh agar perilaku kita selaras dengan ajaran agama Islam maka kami mengambil
judul : “ Sumber-sumber Ilmu Fiqih.
1.3 Rumusan
Masalah
Selanjutnya penulis menghasilkan
suatu konsekuensi yang terangkum dalam pertanyaan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud sumber ilmu
fiqh?
2. Apa saja yang menjadi sumber ilmu fiqh?
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sumber-sumber Fiqih
A. Pengertian
Yang dimaksud dengan sumber-sumber
fiqih adalah dalil-dalil syariah yang digunakan oleh para mujtahid dalam
melakukan istimbath hukum.
1.
Dalil
Makna dari kata dalil (دليل)
dalam bahasa Arab adalah :
المـُرْشِدُ
وَالهَادِي إِلَى شَيْءٍ حِسِّيٍّ أَوْ مَعَنِوِيٍّ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ
Yang
mengarahkan dan memberi petunjuk kepada sesuatu, baik bersifat lahiriyah atau
maknawiyah, baik bersifat kebaikan atau keburukan.
2.
Syar'i
Istilah syar'i merupakan
sifat dari kata syariah (شريعة), yang artinya sesuatu yang bersifat
kesyariahan. Sebagaimana kata dzahab (ذهب) yang berarti emas, maka kata dzahabi
(ذهبي) berarti sesuatu yang bersifat keemasan.
Maka makna istilah dalil syar'i (الدليل
الشرعي) adalah :
كُلُّ
مَا يُسْتَفَادُ حُكْم شَرْعِيّ عَمَلِيّ سَوَاءٌ بِطَرِيقِ القَطْعِ أَوِ
الظَّنِّ
Segala
dalil yang bermanfaat dalam menetapkan hukum syariah yang bersifat amaliyah,
baik dengan jalan yang qath'i atau dhzanni.
Kalau kita menyebut dalil syar'i,
maka kita membedakannya dengan dalil-dalil yang lain, seperti dalil logika,
dalil matematika, dalil sain, dan dalil-dalil lainnya.
B.
Pentingnya Mempelajari Sumber Fiqih
Sebuah pertanyaan menarik, kenapa
kita perlu mempelajari sumber-sumber fiqih? Bukankah masalah itu bisa kita
serahkan kepada para fuqaha dan mujtahid, biar kita sebagai orang awam tinggal
menerima hasil akhirnya saja.
Untuk menjawab pertanyaan di atas,
maka berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dijadikan jawaban.
1.
Menguatkan Hasil Ijtihad
Fatwa ulama yang dihasilkan lewat
ijtihad yang mereka lakukan seringkali belum memuaskan orang yang meminta
fatwa. Sehingga terkadang orang yang meminta fatwa masih penasaran untuk
kembali bertanya kepada ulama yang lain, siapa tahu ada opini yang berbeda.
Salah satu sebab keraguan yang
muncul biasanya karena fatwa itu tidak diiringi dengan dalil-dalil syar'i yang
mencukupi. Orang yang minta fatwa hanya diberikan hasil akhir, misalnya hukum
mengerjakan perbuatan ini haram, dan hukum itu halal, titik. Mereka kurang
diajak untuk mengetahui proses bagaimana fatwa itu dilahirkan, mulai dari hulu
hingga hilir.
Untuk itu tidak ada salahnya, meski
pun orang awam, asalkan mereka membutuhkan, diberikan sedikit wawasan dan
pengetahuan tentang bagaimana proses lahirnya suatu fatwa itu dilakukan. Tentu
hal ini bukan merupakan kewajiban, namun setidaknya hal seperti ini bisa
menjadi ajang untuk mengajarkan ilmu syariah kepada umat Islam.
Dan hal itu secara tidak langsung
akan membuat orang yang menerima fatwa itu semakin yakin dan mantab dengan
fatwa yang mereka terima.
2.
Mengenalkan Luasnya Syariah Islam
Selama ini umumnya orang awam dan
ilmunya pas-pasan, hanya mengenal dua sumber hukum dalam Islam, yaitu Al-Quran
dan As-Sunnah. Dan hadits yang paling sering diulang-ulang adalah hadits
tentang Rasulullah SAW mewasiatkan keduanya.
لقدْ
تركْتُ فِيْكُمْ أمْريْنِ لنْ تضِلُّوا أبدًا ما إِنْ تمسّكْتُم بِهِما: كِتاب
اللهِ وسُنّةِ رسُولِهِ
Sungguh
telah aku tinggalkan dua hal yang tidak akan membuatmu sesat selama kamu
berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah rasul-Nya. (HR Malik)
Hadits ini tidak salah, namun
seringkali dipahami secara kurang utuh oleh kebanyak umat Islam. Seolah-olah
hadits ini membatasi bahwa sumber hukum Islam hanya sebatas Al-Quran dan
As-Sunnah saja. Dan di luar keduanya, tidak diakui sebagai sumber hukum Islam.
Tentu pemahaman seperti ini keliru
dan menyesatkan. Dan oleh karena itu menjadi tugas para ulama untuk meluruskan
paham keliru dan sesat ini.
3.
Kuatnya Dalil
Semua sumber fiqih yang digunakan
oleh para ulama dalam melakukan istimbath hukum adalah sumber-sumber yang
sangat kuat dan memiliki dasar yang merupakan perintah dari Allah SWT dan
Rasulullah SAW juga.
Meski pun ada sumber hukum yang
disepakati dan ada yang tidak disepakati, namun kita tidak bisa menafikan
begitu saja sumber-sumber hukum itu. Sebab dalam kenyataannya, ada begitu
banyak praktek syariah Islam yang terlanjur kita jalankan dalam kehidupan
sehari-hari, ternyata ditegakkan di atas sumber fiqih yang diperselisihkan oleh
para ulama.
4.
Kebutuhan Zaman dan Luasnya Penyebaran Islam
Sejak zaman Nabi SAW masih hidup,
beliau sudah memberi isyarat tentang terbatasnya jumlah ayat Al-Quran dan
As-Sunnah. Hal itu terungkap dalam dialog beliau SAW dengan Muaz bin Jabal saat
diutus ke negeri Yaman, sebuah negeri yang saat itu belum menjadi negeri Arab
dan penduduknya memeluk agama nasrani.
كيْف
تقْضيِ إِذا عُرِض لك قضاء ؟ قال : أقْضِي بكِتابِ اللهِ .قال : فإِنْ لمْ تجِدْ
فيِ كتِابِ اللهِ ؟ قال : فبِسُنّةِ رسُولِ اللهِ r قال : فإِنْ لمْ تجِدْ فيِ
سُنّةِ رسُولِ الله ولا فيِ كتِابِ الله ؟ قال : أجْتهِدُ رأْيِ ولا آلو .
فضرب رسُولُ اللهِ صدْرهُ وقال : الحمْدُ لِلّه الّذِي وفق رسُولُ رسُولِ
اللهِ لِما يرْضي رسُوْلُ اللهِ
Dari Muaz
bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,"
Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz
menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali,
bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan
dengan sunnah Rasulullah, jawab Muaz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak
engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muaz
menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan
berlebih-lebihan. Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya seraya
bersabda,"Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan
Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah (HR Abu Daud)
Kalau di masa Rasulullah SAW saja
sudah bisa diprediksi bahwa akan ada banyak permasalahan yang tidak bisa dengan
secara langsung dipecahkan lewat Al-Quran dan As-Sunnah sehingga dibutuhkan
ijtihad, maka di masa kita hidup ini, 14 abad kemudian, di negeri yang berjarak
9.000 km dari Mekkah dan Madinah, tentu jauh lebih kompleks lagi masalahnya.
Maka kalau hanya berkutat dengan
teks-teks Al-Quran dan As-Sunnah, tanpa memperhatikan sumber-sumber hukum yang
lain, kita akan sangat kekurangan dalil.
C.
Sumber Fiqih Yang Disepakati
1.
Pengertian
Yang dimaksud dengan sumber-sumber
fiqih yang disepakati adalah bahwa semua ulama dari berbagai mazhab sepakat
untuk menggunakan sumber fiqih itu dalam melakukan istimbath atau menarik
kesimpulan hukum.
2.
Yang Termasuk Sumber Fiqih Yang Disepakati
Sumber-sumber fiqih yang telah
disepakati secara bulat oleh para ulama ada empat, yaitu :
·
Al-Qur’an
·
As-Shunnah
·
Al-Ijma’
·
Al-Qiyas
1. Al-Qur’an
A. Secara
Bahasa (Etimologi)
Merupakan
mashdar dari Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya
berarti: membaca], atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi).
B. Secara
Syari’at (Terminologi)
Al-Qur’an
adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para
Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat
al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Allah ta’ala
berfirman dalam QS. Al-Insaan ayata 23 yang berbunyi :
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan
berangsur-angsur.” (al-Insaan:23)
Dan firman-Nya
QS. Yusuf ayat 2 yang berbunyi :
Artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa
al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2)
Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an
yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun
menggantikannya. Dia ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam
firman-Nya, QS. Al Hijr ayat 9 yang berbunyi :
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menunkan
al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9)
C. Nama-Nama Al-Qur’an
1.
Al kitab
(kitabullah) yang merupakan sinonim dari kata Al Qur’an artinya,kitab suci
sebagai petunjuk bagi oranh yang bertakwa nama ini diterangkan dalam Al-Qur’an
surat al-Baqarah ayat 2.
2.
Az-zikr artinya peringatan, nama ini di terangkan dalam Al-Qur’an
surat al-hijr ayat 9.
3.
Al-
furqan, artinya pembeda,nama ini diterangkan dalam surat al Furqan ayat 1 .
4.
As-suhuf
berarti
lembaran-lembaran, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al- bayinah
ayat 2.
D. Pembagian surat dalam Al-Qur’an.
1.
Assabi’uthiwaal,
yaitu tujuh surat yang panjang,ketujuh surat itu yaitu al-baqarah (286),
al-A’raf (206), Ali Imran (200), an-nisa (176), al an’am (165),al-maidah (120),
dan Yunus ( 109)
2.
Al-Miuun, yaitu surat yang berisi
seratus ayat lebih. Maksudnya surat-surat tersebut memiliki ayat sekitar seratus
ayat atau lebih. Misalnya,surat Hud (123 ayat),Yusuf (111 ayat), dan At-Taubah
(129 ayat).
3.
Al-Matsaani, yaitu surat-surat yang berisi
kurang dari seratus ayat. Maksudnya surat-surat tersebut kurang dari seratus
ayat.Misalnya,surat Al-anfal (75 ayat),ar-rum (60 ayat),dan al-hijr(99 ayat).
4.
Al-
Mufashshal, yaitu surat-surat pendek seperti al-ikhlas,ad-duha,dan
an-nasr.suat-surat seperti ini kebannyakan di temukan dalam juz ke 30.
E. Wahyu yang pertama dan terakhir
diturunkan .
Wahyu yang di
turunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad adalah surat Al-Alaq ayat ke 1-5
di gua hira.Tepatnya pada tangal 17 ramadan,tahun ke 40 bertepatan dengan
tanggal 6 Agustus 610 M.
F. Proses turunnya Al-Qur’an
Ada 3 pendapat yang berkenaan dengan proses turunnya
Al-Qur’an :
1.
Al-Qur’an
diturunnkan sekaligus
Al-Qur’an
diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar kemudiaan diturunkan
secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw.
2.
Al-Qur’an di
turunkan secara berangsur-angsur
Al-Qur’an diturunkan secara
berangsur-angsur pada setiap malam lailatul qadar.
3.
Al-Qur’an
diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah. AL-Qur’an diturunkan pertama
kali pada malam lailatul qadar sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul
izzah,kemudian b aru diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi Muhammad saw
G. .Sejarah
turunnya Al-Qur’an
Allah SWT
menurunkan Al-Qur’an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu
yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan
ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1
sampai ayat 5. Sedangkan
terakhir alqu’an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni
surah almaidah ayat 3.Alquran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit demi
sedikit baik beberapa ayat, langsung satu surat, potongan ayat, dan sebagainya.
Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan
keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad SAW akan
lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya. Lama
al-quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22
hari.
H. Fungsi
Al-Qur’an
1. Petunjuk bagi Manusia.
1. Petunjuk bagi Manusia.
Allah swt
menurunkan Al-Qur’ansebagai petujuk umar manusia,seperti yang dijelaskan dalam
surat (Q.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)
2. Sumber pokok ajaran islam.
Fungsi
AL-Qur’an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya
oleh segenap hukum islam.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara
umum seperti hokum, ibadah ,ekonomi, politik, social, budaya, pendidikan, ilmu
pengethuan dan seni.
3. Peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Dalam AL-Qur’an
banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang
taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan
mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus
pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam
Al-Qur’an.
4. sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.
4. sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.
Turunnya Al-Qur’an merupakan salah
satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw.
I. Tujuan Pokok
Al-Quran
1.
Petunjuk akidah
dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan
akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
2.
Petunjuk
mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan
susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
3.
petunjuk mengenal syariat dan hukum
dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia
dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih
singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus
ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”
J. Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan Al-Qur’an
J. Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan Al-Qur’an
1.
Akidah
akidah adalah keyakinan atau kepercayaan.Akidah islam
adalah keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dengan sepenuh
hati oleh setiap muslim.Dalam islam,akidah bukan hanya sebagai konsep dasar
yang ideal untuk diyakini dalam hati seorang muslim.Akan tetapi,akidah tau
kepercayaan yang diyakini dalam hati seorang muslim itu harus mewujudkan dalam
amal perbuatan dan tingkah laku sebagai seorang yang beriman.
2.
.Ibadah
dan Muamalah
Kandungan penting dalam Al-Qur’an
adalah ibadah dean muamallah.Menurut Al-ur’an tujuan diciptakannya jin dan
manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah.Seperti yang dijelaskan dalam
(Q.S Az,zariyat 51:56)
Manusia selain
sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial.manusia memerlukan berbagai
kegiatan dan hubungan alat komunikasi .Komonikasi dengan Allah atau hablum
minallah ,seperti shalat,membayar zakat dan lainnya.Hubungan manusia dengan
manusia atau hablum minanas ,seperti silahturahmi,jual beli,transaksi dagang,
dan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan seperti itu disebut kegiatan Muamallah,tata cara
bermuamallah di jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 82.
3.
Hukum
Secara garis besar Al-Qur’an
mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti hukum perkawinan,hukum
waris,hukum perjanjian,hukum pidana,hukum musyawarah,hukum perang,hukum antar
bangsa.
4. Akhlak
4. Akhlak
Dalam bahasa
Indonesia akhlak dikenal dengan istilah moral .Akhlak,di samping memiliki
kedudukan penting bagi kehidupan manusia,juga menjadi barometer kesuksesan
seseorang dalam melaksanakan tugasnya.Nabi Muhammad saw berhasil menjalankan
tugasnya menyampaikan risalah islamiyah,anhtara lain di sebabkan memiliki
komitmen yang tinggi terhadap ajhlak.ketinggian akhlak Beliau itu dinyatakan
Allah dalam Al-Qur’an surat al-Qalam ayat 4
5. Kisah-kisah umat terdahulu
Kisah merupakan
kandungan lain dalam Al-Qur’an.Al-Qur’an menaruh perhatian penting terhadap
keberadaan kisah di dalamnya.Bahkan,di dalamnya terdapat satu surat yang di
namaksn al-Qasas.Bukti lain adalah hampir semua surat dalam Al-Qur’an memuat
tentang kisah. Kisah
para nabi dan umat terdahulu yang diterangkan dalam Al-Qur’an antara lain di
jelaskan dalam surat al-Furqan ayat 37-39.
6. Isyarat pengemban ilmu pengetahuan
dan teknologi
Al-Qur’an
banyak mengimbau manusia untuk mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi.Seperti dalam surat ar-rad ayat 19 dan al zumar ayat 9.Selain kedua
surat tersebut masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi
seperti dalam kedokteran,farmasi,pertanian,dan astronomi yang bermanfaat bagi
kemjuan dan kesejahteraan umat manusia.
K. Keistimewaan Dan Keutamaan Al-qur’an
1.
Memberi
pedoman dan petunjuk hidup lengkap beserta hukum-hukum untuk kesejahteraan dan
kebahagiaan manusia seluruh bangsa di mana pun berada serta segala zaman /
periode waktu.
2.
Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan sehingga
pendengar ayat suci al-qur’an dapat dipengaruhi jiwanya.
3.
Memberi
gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu.
4.
Memiliki
ayat-ayat yang menghormati akal pikiran sebagai dasar utama untuk memahami
hukum dunia manusia.
5.
Menyamakan manusia tanpa pembagian strata,
kelas, golongan, dan lain sebagainya. Yang menentukan perbedaan manusia di mata
Allah SWT adalah taqwa.
6.
Melepas kehinaan pada jiwa manusia agar
terhindar dari penyembahan terhadap makhluk serta menanamkan tauhid dalam jiwa.
L. Hikmah
Diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur
1. Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam . Firman-Nya:“Orang-orang kafir berkata, kenapa Qur’an tidak turun kepadanya sekali turun saja? Begitulah, supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Al-Furqaan: 32)
1. Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam . Firman-Nya:“Orang-orang kafir berkata, kenapa Qur’an tidak turun kepadanya sekali turun saja? Begitulah, supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Al-Furqaan: 32)
2. Untuk menantang orang-orang kafir
yang mengingkari Qur’an karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan
secara berangsur-angsur. Dengan begitu Allah menantang mereka untuk membuat
satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding dengannya. Dan ternyata
mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur’an, apalagi
membuat langsung satu kitab.
3. Supaya mudah dihapal dan dipahami.
3. Supaya mudah dihapal dan dipahami.
4. Supaya orang-orang mukmin antusias
dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya.
5. Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
5. Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
B. As-Sunah
Secara etimologis Sunnah berarti “jalan yang dilalui” atau “cara yang senantiasa dilakukan”. Sedangkan secara syara’
adalah “sesuatu yang datang dari Rasulullah, baik berupa perkataan, perbuatan
ataupun pengakuan”.
Secara terminologi, Sunnah bisa dilihat dari tiga bidang ilmu, yaitu dari ilmu hadits,
ilmu fiqh dan ushul fiqh. Menurut ahli hadis, Sunnah identik dengan hadits.
Sedangkan menurut ahli ushul fiqh adalah “segala yang diriwayatkan dari Nabi
SAW, berupa perkataaan, perbuatan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum.
Sunnah menurut ahli fiqh,
disamping pengertian yang dikemukakan para ulama ushul fiqh diatas, juga
dimaksudkan sebagai salah satu hukum taklifi,yang mengandung pengertian
“perbuatan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan
tidak berdosa.
Berdasarkan definisi diatas, para
ahli ushul fiqh membagi Sunnah sebanyak tiga macam :
1. Sunnah Fi’liyyah, yaitu
perbuatan yang dilakukan Nabi SAW yang dilihat atau diketahui dan disampaikan
kepada orang lain. Misalnya, tata cara shalat yang ditunjukkan Rasulullah SAW,
kemudian disampaikan sahabat yang melihat atau mengetahuinya kepada orang lain.
2.
Sunnah Qauliyyah, yaitu ucapan Nabi SAW yang didengar dan disampaikan seseorang atau
ebebrapa sahabat kepada orang lain, misalnya sabda Rasulullah yang diriwayatkan
Abu Hurairah : Tidak sah shalat yang tidak membaca surat al-Fatihah (H.R
Bukhari dan Muslim).
3.
Sunnah Taqririyah ialah : sesuatu yang timbul dari sahabat yang telah diakui oleh Rasulullah
SAW, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Pengakuan tersebut adakalanya dengan
sikap diamnya dan tidak adanya keingkaran beliau, atau dengan adanya
persetujuan dan penrnyataan penialaian baik terhadap sikap ini.
A. Kehujjahan As-Sunnah Serta Hubungannya dengan Al-Qur’an.
Semua umat islam telah
mensepakati bahwa apa saja yang datang dari Rasulullah, baik ucapan, perbuatan
atau taqrir, membentuk suatu hukum atau tuntunan yang disampaikan kepada kita
dengan sanad shahih dan mendatangkan qath’i atau zhanni.
As-Snnah sendir berfungsi untuk memperjelas makna yang terkandung didalam
al-Qur’an. Dengan kata lain, hukum-hukum yang ada pada Sunnah adalah hukum-hukum yang ada pada al-Qur’an.
Bukti atas kehujjahan as-Sunnah dapat dibuktikan sebagai berikut:
Pertama: nash-nash al-Qur’an.
Allah dalam beberapa ayat telah memerintahkan untuk metaati Rasul-Nya dan
menjadikan ketaatan kepada Rasul-Nya sebagai suatu ketaatan kepada Allah, juga
memerintahkan kaum muslimin utnuk megembalikan semua kepada Allah dan Rasul-Nya
apabila terdapat pertentangan. Sebagimana firman Allah :
ö@è% (#qãè‹ÏÛr& ©!$# š^qß™§9$#ur ( ........
Katakanlah:
"Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya...”
`¨B ÆìÏÜムtAqß™§9$# ô‰s)sù tí$sÛr& ©!$# ( .........
Barangsiapa yang mentaati Rasul
itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah.
Kedua: Ijma’ para sahabat, baik
pada masa hidup Rasulullah SAW maupun sesudah wafatnya, terhadap kewajiban
mengikuti sunnahnya. Pada masa hidup Nabi, mereka melaksanakan hkumhukumnya dan
menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganya.
Ketiga: di dalam al-Qur’an, Allah
SWt telah mewajibkan kepada umat manusia untuk melaksanakan ibadah fardu dengan
lafadz ‘am tanpa penjelasan secara detail, baik hukum atau cara
melaksanakannya. Seperti firman Allah:
(#qßJŠÏ%r&ur..... no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¢•9$# .........
“.......dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!.......”
Namun demikian, Allah tidak
memberikan penjelasan tentang cara shalat atau menunaikan zakat, puasa atau
haji. Keumuman tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dengan sunnah al-Qauliyyah
ataupun al-Amliyah.
Kehujjahan as-Sunnah diatas juga
memberikan indikasi bahwa terdapat hubungan harmonis dengan al-Qur’an. Maka
posisi as-Sunnah sebagi pengiring atau sebagai urutan kedua setelah al-Qur’an,
yakni sebagai rujukan mujtahid dalam menentukan hukum jika memang tidak
terdapat di dalam al-Qur’an.
B. Fungsi as-Sunnah yang
menunjukkan hubunganya dengan al-Qur’an
1. Berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada di dalam al-Quran. Dengan
demikian hukum tersebut terdapat di dua sumber dan mempunyai dua dalil.
2. Berfungsi sebagai penafsir dan perinci hal-hal yang disebut secar mujmal di
dalam al-Qur’an, atau memberikan taqyid terhadap hal-hal terdapat di dalam
al-Qur’an secara muthlaq, atau memberikan takhshish
(pengecualian) terhadapa ayat-ayat al-Qur’an yang ‘am.
3. Sebagai pembentuk hukum atau penetap hukum yang tidak terdapat di dalam al-Qur’an.
C. Pembagian As-Sunnah
Berdasarkan Sanad.
As-Sunnah ditinjau dari
perawi-perawinya dari Rasulullah SAW, dibagi tiga macam, yaitu:
1. Sunnah Mutawatirah, sunnah yang diriwayatkan oleh sekelompok orang (rawi)
yang biasanya rawi-rawi itu tidak mungkin mengadakan sekutu untuk melakukan
kebohongan. Hal tersebut karena jumlah mereka banyak, jujur dan berbeda
lingkungannya. Kemudian dari mereka diceritakan kepada orang lain hingga sunnah
tersebut bisa sampai kepada kita dengan sanad kelompok rawi dari masing-masing
tingkatan yang tidak perna melakukan persekongkolan melakukan bohong sejak
diterimanya dari Rasulullah.
2. Sunnah Masyhurah, Sunnah yang diriwayatkan dari rasulullah SAW oleh seorang
atau dua orang atau kelompok sahabat yangtidak mempunyai derajat atau tingkatan
tawatur. Kemudian, beberapa rawi atau sekelompok dari kelompok-kelompok
yang tawatur itu meriwayatkan hadits tersebut dari seorang rawi atau beberapa
rawi. Dari kelompok ini, diriwayatkan oleh kelompok lain yang sepadan hingga kepada
kita sanad bahwa kelompok pertama mendengar dari perkataan Rasulullah atau
melihat perbuatan Rasulullah oleh seorang atau dua orang. Namun kelompok ini
belum mencapai derajat matawatir, walaupun kelompok-kelompok itu sudah mencapai
tingkat tawatur.
3. Sunnah Ahad.
Sunnah yang diriwayatkan oleh
kelompok yang tidka sampai kepada derajat tawatur, atau yang diriwayatkan oleh
serang atau dua orang atau kelompok orang yang tidak mencapai derajat tawatur.
D. Qath’i dan Zhanni-nya As-Sunnah.
Seperti halnya al-Qur’an, hadis
pun demikian terdapat hadis yang qath’i dan zhanni. Sedangkan ukuran keqath’i
dan ke zhania tidak ditinjau dari lafadznya melainkan dari sanad hadis
tersebut.
Dari segi kedatangannya, maka
sunnah mutawatiran merupakan sunnah yang pasti kedatangannya dari Rasulullah
SAW. Karena kemutawatiran periwayatan menunjukkan kepastian mengenai kebenaran
beritanya. Sedangkan sunnah masyhurah merupakan sunnah yang apsti datangnya
dari shahabi atau sahabat yang menerimanya dari Rasulullah SAW. Akan tetapi
sunnah ini tidak pasti datang dari Rasulullah SAW, karena orang yang pertama
kali menerimanya dari beliau ukanlah kelompok perawi mutawatir. Oleh karena
inilah, maka ulama hanafiyyah menjadikan sunnah masyhurah ini dalam hukum
sunnah mutawatir. Jadi ia dapat mentakhsiskan keumuman al-Qur’an, membatsi
kemutlakannya, karena sunnah ini dipastikan kedatangannya dari sahabat.
Sunnah ahad adalah sunnah
zhannniyah datnganya dari Rasulullah, karena tidak menunjukkan kepastian di
dalam sanadnya. Adapun dari segi dalalahnya (pengertiannya), maka setiap maka
setiap sunnah dari beberapa bagian ini, maka kadangkala ada yang dalalahnya
qath’i apabila nashnya tidak memungkinkan pentakwilan, dan ada kalanya
dalalahnya zhanni apabila nashnya mengandung kemungkinan akwil.
E. Perkataan dan Perbuatan Rasul Yang Tidak Termasuk Syari’at.
Sabda dan perbuatan yang keluar
dari Rasulullah merupakan hujjah atas umat Islam. Kewajiban terhadap segala
perbuatan rasulullah hanyalah apabila ia keluar saat dalam fungsinya sebagai
Rasulullah dan hal itu dimaksudkan untuk membentuk hukum secara umum dan
sebagai tuntunan.
Beberapa hal
yang datng dari Rasulullah tapi tidak termasuk syri’ay:
1. Segala hal yang keluar dari Rasulullah yang bersifat naluri kemanusiaan,
seperti berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan, minum adalah bukan syari’at.
Karena hal ini bukanlah bersumber dari risalahnya.
2. Apa-apa yang bersumber dari Rasulullah yang sifatnya pengetahuan manusia,
misalnya kepintaran, dan percobaan tentang masalah dunia. Misalnya: sewa
menyewa, pertanian, menagtur tentara, siasat perang atau cara pengobatan dan
lain-lainnya.
3. Hal-hal yang keluar dari Rasulullah SAW dan ada dalil yang menunjukkan itu
adalah khusus bagi beliau dan bukan pula merupakan tuntunan, maka hal itu
bukanlah hukum syari’at Islam secara umum. Sebagaimana beliau menikah dengan
lebih dari empat orang istri.
F. Macam-Macam
Hadits
Tingkatan dan Jenis Hadits
- Hadits Shohih (Sah/benar/sehat),yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Sanadnya bersambung;
- Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
- Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
- Hadits Hasan (Bagus/Baik), bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta cacat.
- Hadits Dho’if (Lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal, mu’allaq, mudallas, munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau cacat.
- Hadits Marfu’ (Semua sanadnya bersandar kepada Rasulullah Saw) adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya)
- Hadits Mushahhaf (Kesalahan terjadi pada catatan / bacaannya)
- Hadits Muttasil (Sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw)
- Hadits Mauquf (Sanadnya boleh jadi bersambung, boleh jadi terputus), adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu’. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara’id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: “Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah”. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti “Kami diperintahkan..”, “Kami dilarang untuk…”, “Kami terbiasa… jika sedang bersama rasulullah” maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu’.
- Hadits Mun-qoti’ (Dho’if, karena terputus sanadnya), Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3
- Hadits Mursal (Dho’if dan Mardud), Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi’in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi’in (penutur2) mengatakan “Rasulullah berkata” tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).
- Hadits Mu’allak(Terselubung cacatnya / merusak keshohihan Hadits) bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: “Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan….” tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).
- Hadits Ghorib (Yang menyendiri) bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
- Hadits Masyhur (Nyata), bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.
- Hadits Mudallas (Gelap / Menyembunyikan cacat dalam sanad), disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya
- Hadits Mutawatir (Berturut Sanadnya), adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma’nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat)
- Hadits Syadz (Bertentangan), , Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain.
- Hadits Mudraj (Ada tambahan, yang bukan bagian dari Hadits), yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya
- Hadits Maqlub (Dho’if. Karena ada pergantian lafaz), yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
- Hadits Mudhtorib (Rusak susunan), artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
- Hadits Mu’alhal (Menggugurkan dua Perawi aslinya)(Hukumnya Dho’if), artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma’lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu’tal (Hadits sakit atau cacat)
- Hadits Matruk (Dho’if yang paling buruk. Perawinya tertuduh Pendusta), yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
- Hadits Maudhu’ (Palsu. Kebohongan yang diciptakan dan disandarkan kepada Rasul Saw), bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.
- Hadits Munkar (Cacat dan Palsu perawinya kedapatan berbuat Fasiq), yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.
Sunnah ada enam Kitab Hadits yang
ternama, yang merupakan pegangan penjelasan utama bagi umat Islam. Keenam Kitab
tersebut ialah :
- Shohih Imam Al-Bukhari.
- Shohih Imam Muslim.
- Imam Abu Daud.
- Imam An-Nasa’iy.
- Shohih At-Turmidzy.
- Imam Ibnu Majah.
3.
Ijma’
a.
Pengertian ijma'
Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad)
terhadap sesuatu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.
“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu”.
(Qs.10:71)
Pengertian kedua, berarti kesepakatan.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur
(lalu mereka memasukkan dia), dan (di waktu dia sudah ada di dalam sumur) Kami
wahyukan kepada Yusuf, “sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka
perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.” (QS. Yusuf:15)
Adapun perbedaan kedua arti diatas adalah: yang pertama bisa dilakukan oleh
satu orang atau banyak, sedangkan arti yang kedua hanya bisa dilakukan oleh dua
orang atau lebih, karena tidak mungkin seseorang bersepakat dengan dirinya.
Menurut istilah ijma', ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum
syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.
Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan
pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Maka kaum
muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan
atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama.
Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar
RA itu, namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Kesepakatan yang
seperti ini dapat dikatakan ijma'.
Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari
kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara.
b.
Dasar hukum ijma'
Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an, al-Hadits dan akal pikiran.
1)
Al-Qur'an
Allah SWT berfirman:
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu." (an-Nisâ': 59)
Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal,
keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan
urusan agama. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin
atau penguasa, sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid.
Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat
tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa, maka kesepakatan itu
hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.
Firman AIlah SWT:
Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah
dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran: 103)
Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu, jangan sekali-kali
bercerai-berai. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma'
(bersepakat) dan dilarang bercerai-berai, yaitu dengan menyalahi
ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid.
Firman Allah SWT QS. An-Nisa ayat 115 yang berbunyi :
Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas
kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang
beriman, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu
dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali." (an-Nisâ': 115)
Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu'minîna yang berarti
jalan orang-orang yang beriman. Jalan yang disepakati orang-orang beriman
dapat diartikan dengan ijma', sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa
yang tidak mengikuti ijma' para mujtahidin, mereka akan sesat dan dimasukkan ke
dalam neraka."
2)
AI-Hadits
Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu
peristiwa atau kejadian, maka ijma' itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak
mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan
dusta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan
kesalahan." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
3)
Akal pikiran
Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara', hendaklah dilakukan dan
dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam
berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas
yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan.
Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash, maka
ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari
nash itu. Sebaliknya jika dalam berijtihad, ia tidak menemukan satu nashpun
yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka dalam berijtihad ia tidak boleh
melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam, karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil
yang bukan nash, seperti qiyas, istihsan dan sebagainya. Jika semua mujtahid
telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil ijtihad yang telah
dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits,
karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika seorang
mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya boleh
diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum
suatu peristiwa lebih utama diamalkan.
c.
Rukun Ijma’
Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para
mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’ .
Kesepakatan itu dapat dikelompokan menjadi empat hal:
1. Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang
mujtahid apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa.
Karena ‘kesepakatan’ dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati
antara satu dengan yang lain.
2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid
atas hukum syara’ dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan
kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara’ hanya para mujtahid
haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid
ahli Syiah, maka secara syara’ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma’.
Karena ijma’ tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh
mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.
3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai
setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan
dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan.
4. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum
kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak
membatalkan kespekatan yang ‘banyak’ secara ijma’ sekalipun jumlah yang berbeda
sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan
yang banyak itu hujjah syar’i yang pasti dan mengikat.
Syarat Mujtahid
Mujtahid
hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat:Syarat pertama, memiliki
pengetahuan sebagai berikut:
1. Memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an
2. Memiliki pengetahuan tentang Sunnah
3. Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’
sebelumnya
4. Memiliki pengetahuan tentang ushul fikih
5. Menguasai ilmu bahasa
Selain itu,
al-Syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki
pengetahuan tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Oleh karena itu
seorang mujtahid dituntut untuk memahami maqasid al-Syariah. Menurut Syatibi,
seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal:
1. Harus mampu memahami maqasid al-syariah
secara sempurna
2. Harus memiliki kemampuan menarik kandungan
hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah
d.
Kehujjahan Ijma’
Apabila rukun
ijma’ yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh
permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin
walau dengan perbedaan negeri, jenis dan kelompok mereka yang diketahui
hukumnya. Perihal ini, nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya
dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun
individu.
Selanjutnya
mereka mensepakati masalah hukum tersebut, kemudian hukum itu disepakati
menjadi aturan syar’i yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya.
Lebih lanjut, para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang
sudah disepakati) garapan ijtihad, karena hukumnya sudah ditetapkan secara
ijma’ dengan hukum syar’i yang qath’i dan tidak dapat dihapus (dinasakh).
e.
Kemungkinan Terjadinya ijma'
Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai
sekarang, dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma', maka ijma' dapat
dibagi atas tiga periode, yaitu:
1. Periode Rasulullah SAW;
2. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin
Khattab; dan
3. Periode sesudahnya.
Pada masa Rasulullah SAW, beliau merupakan sumber hukum. Setiap ada
peristiwa atau kejadian, kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur'an yang
telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Jika
mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu, mereka langsung menanyakannya
kepada Rasulullah. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya, adakalanya menunggu
ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. Karena itu kaum muslimin masih satu, belum
nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian
yang mereka alami.
Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, kaum muslimin kehilangan tempat
bertanya, namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap, yaitu al-Qur'an
dan al-Hadits. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan
hukum, mereka berijtihad, tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah
berijma'. Seandainya ada ijma' itu, kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu
Bakar, Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama
Khalifah Utsman. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu,
belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin, disamping
daerah Islam belum begitu luas, masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau
orang yang dipandang sebagai mujtahid.
Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman, mulailah nampak
gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. Hal ini dimulai dengan
tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat jabatan-jabatan
penting dalam pemerintahan (nepotisme). Setelah Khalifah Utsman terbunuh,
perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi, seperti peperangan antara
Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan, peperangan antara Ali bin
Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal, timbul golongan
Khawarij, golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. Demikianlah
perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah, semasa
dinasti Abbasiyah, semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya, sehingga dana dan
tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya.
Disamping itu daerah Islam semakin luas, sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan
sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika, sejak ujung Afrika Barat sampai
Indonesia, Tiongkok Selatan, Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Karena itu amat
sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ijma' tidak diperlukan pada masa Nabi
Muhammad SAW;
2. Ijma' mungkin terjadi pada masa Khalifah
Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan enam tahun pertama Khalifah Utsman;
dan c. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat
ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan
di atas, mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah
yang berpenduduk Islam.
Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat
atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama
Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. Pada negara-negara tersebut
sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam, tetapi ada peraturan atau
undang-undang yang khusus bagi umat Islam. Misalnya India, mayoritas
penduduknya beragama Hindu, hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Tetapi
diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. Undang-undang itu
ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para
mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Jika persepakatan para mujtahid India
itu dapat dikatakan sebagai ijma', maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada
masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma' itu hanya dapat
dikatakan sebagai ijma' lokal.
Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma', yaitu keputusan hukum yang
diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala
lapisan masyarakat umat Islam. Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri
sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul
halli wal 'aqdi. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat
undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan
rakyat mereka.
Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. Jika agama Islam membolehkan
seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad, tentu saja
beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan
permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan.
Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi
nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang.
f.
Macam-macam ijma'
Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi, namun dalam
kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. Diterangkan
bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri
atas beberapa macam.
Ditinjau dari segi cara terjadinya, maka ijma' terdiri atas:
1) ljma' bayani, yaitu para mujtahid
menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas, baik berupa ucapan atau tulisan.
Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih, ijma' qauli atau ijma' haqiqi;
2) Ijma' sukuti, yaitu para mujtahid
seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan
tegas, tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap
suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di
masanya. Ijma' seperti ini disebut juga ijma' 'itibari.
Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma', dapat dibagi
kepada:
1) ljma' qath'i, yaitu hukum yang
dihasilkan ijma' itu adalah qath'i diyakini benar terjadinya, tidak ada
kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan
berbeda dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain;
2) ljma' dhanni, yaitu hukum yang
dihasilkan ijma' itu dhanni, masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari
peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad
orang lain atau dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma' yang dihubungkan
dengan masa terjadi, tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya.
Ijma'-ijma' itu ialah:
1) Ijma' sahabat, yaitu ijma' yang
dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW;
2) Ijma' khulafaurrasyidin, yaitu
ijma' yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi
Thalib. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu
hidup, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. Setelah Abu Bakar meninggal dunia
ijma' tersebut tidak dapat dilakukan lagi;
3) Ijma' shaikhan, yaitu ijma' yang
dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab;
4) Ijma' ahli Madinah, yaitu ijma'
yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Ijma' ahli Madinah merupakan salah
satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki, tetapi Madzhab Syafi'i tidak
mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam;
5) Ijma' ulama Kufah, yaitu ijma' yang
dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Madzhab Hanafi menjadikan ijma' ulama Kufah
sebagai salah satu sumber hukum Islam.
g.
Obyek ijma'
Obyek ijma' ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya
dalarn al-Qur'an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan
ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT)
bidang mu'amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan
dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits.
4. Qiyas
a. Pengertian Qiyas
Secara
etimologi, kata Qiyas ialah pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau
penyamaan sesuatu dengan yang lainnya. Tentang arti qiyas menurut
terminologi, terdapat definisi yang berbeda menurut sebagaian ulama
diantaranya:
Menurut Abu
Hasan Al Bashri yang memberikan definisi qiyas “sebagai usaha dalam
menghasilkan (memenetapkan) hukum ashal pada “furu’” karena keduanya sama
dalam Illat hukum menurut ijtihad”.
Qiyas menurut
ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an
dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya
berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu
yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena
adanya persamaan illat hukum.
Dalam buku
ushul Fiqh 1 karangan Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin, menjelaskan tentang
hakikat Qiyas yaitu :
1. Ada dua kasus yang mempunyai Illat yang sama;
2.
satu diantara dua kasus yang bersamaan Illatnya itu sudah ada hukumnya
yang di tetapkan berdasarkan nash, sedangkan kasusu satu lagi belum di ketahui
hukumnya;
3.
berdasarkan illat yang sama seorang mujtahid menetapkan hukum pada kasus yang
tidak ada nashnya seperti hukum yang berlaku pada kasus pada hukum yang telah
di tetapkan berdasarkan nash.
Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula.Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs.5:90)
Haramnya
meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman
yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman
tersebut adalah haram.
Berhubung qiyas
merupakan aktivitas akal, maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama
jumhur. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok:
1.
Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang
tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma
ulama.
2.
Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan
qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha
mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna
menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka
menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.
3.
Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal
karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini
menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.
b. Rukun Qiyas
Qiyas memiliki
rukun yang terdiri dari empat hal:
1)
Ashl (pokok), yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan
tempat mengqiyaskan.
2)
Far’u (cabang), yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya.
3)
Hukm Ashl, yaitu hukum syara’ yang ditetapkan oleh suatu nash.
4)
Illat, yaitu sifat yang yang terdapat pada Ashl. Dengan sifat itulah, ashl
mempunyai suatu hukum.
c. Qiyas sebagai dalil hukum Syara’
Memang, tidak
ada nash yang menjelaskan tentang Qiyas sebagai Dalil Syara’ untuk menetapkan
hukum, juga tidak ada petunjuk yang membolehkan mujtahid menetapkan hukum
syara’ di luar yang di tetapkan oleh nash. Tetapi jumhur ulama telah menjadikan
Qiyas sebagai dalil syara’, mereka menggunakan Qiyas dalam hal yang tidak
terdapat dalam nash dan dalam ijma’ ulama. Mereka menggunakan Qiyas secara
tidak berelbihan dan ti dak melampui bats kewajaran.
Para jumhur
ulama ini mengemukakan dalil-dalil sebagai dasar dalm menerima kehujjahan qiyas
yakni diantaranya:
Di dalam Q.S al
Hasyr (59) ayat 2 :
Artinya :“Dia-lah yang mengeluarkan
orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat
pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan
merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari
(siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang
tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka;”.
(al-Hasyr 2)
Penjelasan itu diantaranya dapat dilihat dari keterangan yang di riwayatkan
dari tsalab. Ia berkata bahwa al-itibar dalam bahas arab berarti mengembalikan
hukum sesuatu kepada yang sebanding dengannya. Ia dinamai “ashal” yang
kepadanya di kembalikan bandingannya secara ibarat.dan inilah yang disebut
dengan Qiyas.
Berdasarkan sabda rasulullah SAW. Dalam membaiat Mua’adz bin jabal sebagai
wali kota yaman, dalam penjelasannya Rasulullah telah menerangkan bahwa
telah di bolehkannya berijtihad, bila tidak terdapat dalam nash dari
Al-Qur’an dan As sunnah. Ijtihad ini tidak lain adalah usaha yang
sungguh-sungguh untuk mencapai suatu ketetapan hukum.sedang usaha itu
dapat di juga di jalankan dengan menganalogikan peristiwa yang tidak ada
nashnya kepada peristiwa yang ada nashnya dengan memperhatikan persamaan
illatnya (ini di sebut dengan Qiyas).
Bila di pahami dengan logika, penetapan Qiyas sebagai salah satu dalil
syara’ dapat dilihat dari analisa-analisa logis diantaranya ialah keterbatasan
pada nash-nash al qur’an dan As Sunnah, sedang kejadian-kejadian pada manusia
itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Oleh karena itu tidak mungkin
nash-nash yang terbatas itu di jadikan sebagai sumber terhadap
kejadian-kejadian yang tidak terbatas. Dengan demikian Qiyas merupakan sumber
perundang-undangan yang dapat mengikuti kejadian-kejadian baru da dapat
enyesuaikan dengan kemaslahatannya.
d. Kehujjahan Qiyas
Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan
termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Apabila tidak
terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang
kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka
berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i.
Diantara ayat
Al Qur’an yang dijadikan dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah:
“Dia-lah yang
mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka
pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan
keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan
mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari
arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam
hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri
dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi
pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Qs.59:2)
Dari ayat di
atas bahwasanya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk ‘mengambil
pelajaran’, kata I’tibar di sini berarti melewati, melampaui, memindahkan
sesuatu kepada yang lainnya. Demikian pula arti qiyas yaitu melampaui suatu
hukum dari pokok kepada cabang maka menjadi (hukum) yang diperintahkan. Hal
yang diperintahkan ini mesti diamalkan. Karena dua kata tadi ‘i’tibar dan
qiyas’ memiliki pengertian melewati dan melampaui.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs.4:59) Ayat di atas menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ (dalam masalah khilafiyah), tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan, apa yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat diperoleh dengan mencari illat hukum, yang dinamakan qiyas.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs.4:59) Ayat di atas menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ (dalam masalah khilafiyah), tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan, apa yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat diperoleh dengan mencari illat hukum, yang dinamakan qiyas.
Sementara
diantara dalil sunnah mengenai qiyas ini berdasar pada hadits Muadz ibn Jabal,
yakni ketetapan hukum yang dilakukan oleh Muadz ketika ditanya oleh Rasulullah
Saw, diantaranya ijtihad yang mencakup di dalamnya qiyas, karena qiyas
merupakan salah satu macam ijtihad. Sedangkan dalil yang ketiga mengenai qiyas
adalah ijma’. Bahwasanya para shahabat Nabi Saw sering kali mengungkapkan kata
‘qiyas’. Qiyas ini diamalkan tanpa seorang shahabat pun yang mengingkarinya. Di
samping itu, perbuatan mereka secara ijma’ menunjukkan bahwa qiyas merupakan
hujjah dan waji b diamalkan.
Umpamanya,
bahwa Abu Bakar ra suatu kali ditanya tentang ‘kalâlah’ kemudian ia berkata:
“Saya katakan (pengertian) ‘kalâlah’ dengan pendapat saya, jika (pendapat saya)
benar maka dari Allah, jika salah maka dari syetan. Yang dimaksud dengan
‘kalâlah’ adalah tidak memiliki seorang bapak maupun anak”. Pendapat ini
disebut dengan qiyas. Karena arti kalâlah sebenarnya pinggiran di jalan,
kemudian (dianalogikan) tidak memiliki bapak dan anak.
Dalil yang
keempat adalah dalil rasional. Pertama, bahwasanya Allah Swt mensyariatkan
hukum tak lain adalah untuk kemaslahatan. Kemaslahatan manusia merupakan tujuan
yang dimaksud dalam menciptakan hukum. Kedua, bahwa nash baik Al Qur’an maupun
hadits jumlahnya terbatas dan final. Tetapi, permasalahan manusia lainnya tidak
terbatas dan tidak pernah selesai. Mustahil jika nash-nash tadi saja yang
menjadi sumber hukum syara’. Karenanya qiyas merupakan sumber hukum syara’ yang
tetap berjalan dengan munculnya permasalahan-permasalahan yang baru. Yang
kemudian qiyas menyingkap hukum syara’ dengan apa yang terjadi yang tentunya
sesuai dengan syariat dan maslahah.
D.
Sumber Fiqih Yang Tidak Disepakati
1.
Pengertian
Yang
dimaksud dengan sumber-sumber fiqih yang tidak disepakati atau yang mukhtalaf
adalah sumber-sumber fiqih selain Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.
Disebut mukhtalaf
(diperselisihkan) karena tidak semua mujtahid menjadikan sumber-sumber ini
sebagai rujukan dalam berijtihad. Sebagian mujtahid menggunakannya namun
sebagian yang lain tidak menggunakannya.
Selain disebut sumber yang
mukhtalaf, sumber-sumber ini juga sering disebut sumber-sumber sekunder, atau
sumber tambahan. Karena posisinya jauh di bawah sumber yang empat dan utama.
Dalam penerapannya, kenapa kita
menyaksikan begitu banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama, ternyata salah
satunya karena perbedaan dalam menggunakan sumber dan kaidahnya.
2.
Yang Termasuk Sumber Yang Tidak Disepakati
Setidaknya ada lebih dari delapan
sumber yang statusnya bisa menjadi sumber hukum, namun tidak disepakati secara
bulat. Artinya, hanya sebagian ulama saja yang menggunakannya, sementara
barangkali ulama yang lain tidak menggunakannya.
Masing-masing sumber itu ada banyak,
di antaranya yang sering digunakan adalah :
- Al-Masalih Al-Mursalah
- Al-Istishhab
- Saddu Adz-Dzari’ah
- Al-'Urf
- Qaul Shahabi atau mazhabu Ash-Shahabah
- Amalu Ahlil Madinah
- Syar'u Man Qablana
- Al-Istihsan
Sebagai contoh, amalu ahlil madinah
adalah sumber hukum yang digunakan di dalam mazhab Al-Malikiyah. Namun tiga
mazhab lainnya tidak menjadikannya sebagai sumber hukum.
Insya Allah pada bab-bab selanjutnya
kita akan bahas satu per satu masing-masing sumber hukum dalam syariat Islam
ini secara rinci.
Dan mereka yang ingin mendapatkan
pengetahuan lebih mendalam dalam masalah fiqih wajib mengetahui dasar-dasar sumber
pengambilan hukum fiqih ini.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Al-Qur’an ditinjau secara garis besar masih bersifat universal, sehingga
terjemahan al-Qur’an meskipun sempurna tidak dapat dikatakan sempurna, karena
tidak ada yang mampu menandingi kalam Allah. Dan satu-satunya yang mampu
sempurna dalam penerjemahannya adalah Nabi SAW.
Saat ini kita tidak mungkin untuk
bertemu dengan Rasulullah, namun kita bisa memahami maksud al-Qur’an melalui
Sunnah Beliau. Seperti pesan beliau ketika haji Wada’, bahwa beliau berpesan
untuk selalu berpegang pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Pesan beliau ini memberi
inidikasi bahwa dua aspek ini yang paling penting diantara yang lain.
Terbukti sekali dengan hubungan
yang tak terpisahkan antara keduanya, dimana para ulama mengeluarkan pendapat
berlandaskan dua sumber diatas.
Thuruq Maknawiyah atau cara
pendekatan terhadap makna-makna yang telah dipahami dari lafazhnya adalah
peninjauan terhadap makna dengan metode atau cara-cara dalam menggali hukum.
Adapun disini kita membahas hanya dua cara saja yaitu ijma dan qiyas.
Seluruh ulama sepakat bahwa ijma
merupakan hujjah. Ijma memiliki kedudukan pentign dalam sumber hukum islam
setelah al-Quran dan sunah.
Berdasarkan pada penjalan
diatas maka dapat di pahami dan ditetapkan bahwa Qiyas ini merupakan salah satu
usaha dari upaya untuk menetapkan suatu hukum atau dengan kata lain Qiyas
merupakan salah satu dari dalil-dalil syara’ yang menuntuk kehujjahan atasnya.
Dan penetapan itu telah didasarkan pada penjelasan Al-Qur’an, As Sunnah, dan
upaya logika dalam menjelaskan hal tersebut.
3.2
Saran
Dalam makalah ini kami
berkeinginan supaya makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan
dapat
menambah pengetahuan tentang sumber-sumber fiqih.
DAFTAR
PUSTAKA