• PENGERTIAN HADITS SUNNAH KHABAR DAN ATSAR SERTA PERBEDAANNYA

    0


    A.     PENGERTIAN HADITS
    Hadist atau al-hadist menurut bahasa al jadid yang artinya sesuatu yang baru yang  ada setelah tidak ada atau sesuatu yang wujud setelah tidak ada,lawan dari al-qadim (lama)artinya Sesuatu yang berarti menunjukan kepada yang dekat atau waktu yang singkat.
    Sebagian muhaddisin berpendapat bahwa pengertian hadist diatas merupakan pengertian yang sempit.menurut mereka hadis mempunyai cangkupan yang sangat luas ,tidak terbatas pada apa yang di sandarkan kepada nabi SAW (hadis marfu)saja,melainkan termasuk juga yang disandarkan pada sahabat (hadis mauquf)dan tabiin(hadis maqtu).
    Menurut istilah ahli ushul fiqih, pengertian hadist adalah,
     كل ما صد ر عن ا لنبي  صلى ا الله عليه و سلم غير ا لقر ا ن ا لكر يم من قو ل أ و فعل أ و تقر يرمما يصلح أ ن يكو ن د ليلا لحكم شر عي.
    hadist adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Selain Al-Qur’an al-karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun takrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara’. 
    B.     PENGERTIAN SUNNAH
    Sunnah menurut bahasa diantaranya suatu perjalanan yang diikuti baik perjalanan yang baik maupun perjalanan yang buruk, kata sunnah dan bentuk jamaknya diulang sebanyak 15 kali yang mempunyai arti pelaksanaan (arah suatu aturan), (cara hidup), (garis-garis tingkah laku).  Menurut pengertian etimologi ini sudah jalan hidup yang baik atau yang buruk.



    Sunnah menurut istilah terjadi perbedaan dikalangan para ulama diantaranya :
    1.      Menurut ulama hadits (Muhadditsin) sunnah sinomnim hadits sama dengan definisi hadits diatas diantara ulama yang mendefinisikan dengan ungkapan yang singkat.
    2.      Menurut ulama ushul fiqh (ushuliyun) sunnah menurut ushul fiqih hanya perbuatan yang dijadikan hukum Islam. Jika suatu perbuatan Nabi tidak dijadikan dasar hukum seperti : makan, minum, tidur, berjalan, meludah, baung ludah, buang air, dan lain-lain maka pekerjaan sehari-hari tidak dinamakan sunnah.
    3.      Menurut ulama fiqh
    Menurut ulama fiqh sunnah dilihat dari segi hukum sesuatu hukum yang dating dari Nabi SAW, tetapi hukumnya tidak wajib diberi pahala yang mengerjakannya dan tidak disiksa bagi yang tidak mengerjakannya. Contohnya seperti sholat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain.
    4.      Menurut ulama maw’izhah (ulama al wa’zhi wa al-irsyad ) lawan kata dari bid’ah adalah sesuatu yang dating dari Nabi dan sahabat
    Jadi perbedaan para ulama dalam mendefinisikan sunnah, lebih disebabkan karena perbedaan disiplin ilmu yang mereka miliki atau yang mereka kuasai dan ingin menunjukkkan keterbatasan pengetahuan manusia yang dibatasi pada bidang-bidang tertentu. Ulama hadits melihat Nabi sebagai fitur keteladanan yang baik (uswatun hasanah), maka sesuatu yang  dating dari Nabi adalah sunnnah. Ulama ushul melihat pribadi Nabi secara perbuatan syariat, penjelasan kaidah-kaidah hidup masyarakat, dan pembuat dasar-dasar ijtihad ahli fiqh memandang segala perilaku Nabi mengandung hukum lima, yaitu wajib, haram, sunnah, mubah dan makruh. Adapun ulama maw’izha melihatnya sebagai suatu yang dating dari Nabi yang wajib diikuti.



    C.     PENGERTIAN KHABAR
    Menurut bahasa khabar diartikan An-naba (berita) yang artinya serupa dengan alhadits yakni segala sesuatu yang disampaikan seseorang kepada orang lain atau segala yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perktaan, perbuatan, maupun ketetapan. Sedangkan pengertian khabar menruut istilah muhadditsin, khabar identik dengan hadits, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi (baik secara marfu’ mauquf dan maqtu) baik berupa perkataan, persetujuan, dan sifat.
    ما أ ضيف إ لى ا لنبي صلى الله عليه و سلم أ و غير ه
    Segala sesuatu yang disandarkan atau berasal dari Nabi SAW, atau dari yang selain Nabi SAW.
    D.    PENGERTIAN ATSAR
    Dari segi bahasa atsar berarti bekas sesuatu atau sisah sesuatu. Menurut kebanyakan ulama, atsar mempunyai penegrtian sama dengan khabar dan hadits, namun menurut sebagian ulama lainnya atsar cakupannya lebih umum dibandingkan dengan khabar. Menurut istilah ada 2 pendapat pertama, atsar sinonim hadits kedua, atsar adalah sesuatu yang disadarkan kepada sahabat (mauquf) dan tabi’in (maqthu) baik perkataan maupun perbuatan.
    Sesuatu yang disandarkan pada sahabat disebut berita mauquf dan sesuatu yang dating dari tabi’in disebut maqthu. Menurut ahli hadits, atsar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW (marfu’) para sahabat (mauquf) dan ulama salaf. Menurut ahli fiqh hadits yang marfu’ disebut khabar dan hadits yang mauquf disebut atsar.



    E.     PERBEDAAN ANTARA HADITS, SUNNAH, ATSAR DAN KHABAR
    Perbedaan hadits dan sunnah yaitu jika penyandarannya sesuatu kepada Nabi walaupun baru sekali dikerjakan atau masih berupa azam (hadits hammi) menurut sebagian ulama disebut hadits bukan sunnah. Sunnah harus berulang kali atau menjadi kebiasaan yang dilakukan Rasul. Perbedaan lain, hadits menurut sebagian ushuliyun identik dengan sunnah kauliyah saja, karena mereka melihat hadits hanya berbentuk perkataan, sedangkan sunnah berbentuk tindakan atau perbuatan yang telah mentradisi secara kontinu. Sedangkan khabar untuk sesuatu yang berasal dari Nabi dan hadits lebih luas maknanya daripada khabar dan atsar khusus untuk hadits yang berasal dari sahabatb (mauquf) dan tabi’in (maqthu) sedangkan ulama lain menyebutkan atsar untuk hadits yang berasal dari Nabi (marfu’) sahabat (mauquf) dan tabi’in (maqthu).




    KESIMPULAN
    Dapat disimpulkan bahwa hadits, sunnah, atsar, dan khabar sebagaimana yang telah diuraikan, maka pada dasarnya kesemuanya memiliki persamaan maksud yaitu untuk menunjukkan segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun takrirnya.



    DAFTAR PUSTAKA

    Khon, Abdul Majid. 2004. Sunnah dan pengikrarnya di Mesir modern. Disertasi 2004
    Dr. H. Suparta Munzier M.A. Ilmu Hadits. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada
    Dr. Idri, M,Ag. Studi Hadits. Penerbit Kencana Prenada Media Group
  • SUMBER-SUMBER ILMU FIQIH

    0


    MAKALAH
    “SUMBER-SUMBER ILMU FIQIH”


    Disusun Oleh:
    Kelompok 1
    Nurhidayah (160103071)
    Sri Astuti (160103081)
    Yanti Susanti (160103061)

    Kelas 1C
    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
    Mata Kuliah : Fiqih dan Ushul Fiqih
    Dosen : Bpk. Idris M.Pd.I



    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas anugerah-Nya
  • HADITS TENTANG ETIKA GURU TERHADAP SISWA

    0


    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Seorang guru harus mempunyai sifat dan etika yang baik dengan siswanya, agar dalam kegiatan belajar ilmmu yang di transfer oleh guru kepada muridnya akan di terima dan difahami lebih cepat, oleh karena etika pda diri seorang guru sangatlah penting, karena dapat mempengaruhi psikologi dan mental anak didik yang di didiknya, dengan seperti itu seorang guru harus menempatkan dirinya dengan etika-etika yang baik, agar mampu berkomunikasi dengan baik dan memberikan pemahaman yang memahamkan.
               Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka seorang guru harus memiliki etika terhadap anak didik, karena seorang guru memiliki tangung jawab yang besar,
  • TAFSIR SURAH AL-FATIHAH

    0


    BAB I
    PENDAHULUAN

    A.        Latar Belakang

    Surat Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al Qur’an dan terdiri dari 7 ayat adalah masuk kelompok surat Makkiyyah, yakni surat yang diturunkan saat Nabi Muhammad di kota Mekah. Dinamakan Al-Fatihah, lantaran letaknya berada pada urutan pertama dari 114 surat dalam Al Qur’an. Para ulama bersepakat bahwa surat yang diturunkan lengkap ini merupakan intisari dari seluruh kandungan Al Qur’an yang kemudian dirinci oleh surat-surat sesudahnya. Surat Al-Fatihah adalah surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Surat ini berada di urutan pertama dari surat-surat dalam Al-Qur’an dan terdiri dari tujuh ayat. Tema-tema besar Al Qur’an seperti masalah tauhid, keimanan, janji dan kabar gembira bagi orang beriman, ancaman dan peringatan bagi orang-orang kafir serta pelaku kejahatan, tentang ibadah, kisah orang-orang yang beruntung karena taat kepada Allah dan sengsara karena mengingkari-Nya, semua itu tercermin dalam surat Al Fatihah.

    Kedudukan surat Al-Fatihah di dalam Al-Qur’an adalah sebagai sumber ajaran Islam yang mencakup semua isi Al-Qur’an. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW: “Al-Hamdulillah (Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, As-Sab’ul Matsaani dan Al-Qur’anul Adhim.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih). Dinamakan dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, yaitu induk Al-Qur’an, karena di dalamnya mencakup inti ajaran Al-Quran.

    B.     Rumusan Masalah
    1.      Surat Al-Fatihah Dan Terjemahannya
    2.      Penjelasan Umum Surat Al-Fatihah
    3.      Tafsir Surat Al-Fatihah





    BAB II
    PEMBAHASAN

    A.     Surat Al-Fatihah dan Terjemahannya

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)  [الفاتحة : 1 - 7] 
    1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam;
    3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;
    4. Yang menguasai Hari Pembalasan.
    5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
    6. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus;
    7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
    B.     Penjelasan Umum Surat Al-Fatihah
    terdiri dari tujuh ayat dan menurut mayoritas ulama diturunkan di amun menurut pendapat sebagian ulama, seperti Mujahid, surat ini diturunkan di Madinah. Menurut pendapat lain lagi, surat ini diturunkan dua kali, sekali di Mekkah, sekali di Madinah. Ia merupakan surat pertama dalam daftar surat Al-Qur’an. Meski demikian, ia bukanlah surat yang pertama kali diturunkan, karena surah yang pertama kali diturunkan adalah Surah al-Alaq.
     ini dinamakan al-fatihah (pembuka) karena secara tekstual ia memang merupakan surat yang membuka atau mengawali Al-Qur’an, dan sebagai bacaan yang mengawali dibacanya surah lain dalam shalat. Selain al-Fatihah, surat ini juga dinamakan oleh mayoritas ulama dengan Ummul Kitab. Namun nama ini tidak disukai oleh Anas, al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Menurut mereka, nama Ummul Kitab adalah sebutan untuk al-Lauh al-Mahfuzh. Selain kedua nama itu di atas, menurut as-Suyuthi memiliki lebih dari dua puluh nama, di antaranya adalah al-Wafiyah (yang mencakup), asy-Syafiyah (yang menyembuhkan), dan as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).

    C.    Tafsir Surat Al-Fatihah

    ·         Ayat pertama
    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة : 1]
    “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    Kalimat basmalah tersebut bermakna: “Aku memulai bacaanku ini seraya memohon  menyebut seluruh nama Allah.” Idiom “nama Allah” berarti mencakup semua nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada Tuhannya. Dalam permohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah yang seusai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, memahami makna kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.
    Allah adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.

    ·         Ayat ke dua

     الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) [الفاتحة : 2]
    “ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
    Ayat ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; serta baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Di dalam ayat itu pula, terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal saleh.
    ·         Ayat ke tiga
    الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) [الفاتحة : 3]
    “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

    Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu ar-rahmah. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.
    Banyak para ulama yang membedakan antara makna ar-Rahmandan ar-r-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan sifat ar-Rahim adalah sifat kasih sayang-Nya yang memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim merupakan sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan yang bersifat khusus.
    Menurut Syekh Thanthawi Jauhari, kata ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Allah merupakan sumber kasih sayang dan kebaikan. Sedangkan kata ar-Rahim adalah sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan perbuatan, yaitu bagaimana sampainya kasih sayang dan kebaikan Allah kepada para hamba-Nya yang diberi kenikmatan.

    ·         Ayat ke empat
    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) [الفاتحة : 4]
    “Yang menguasai di hari Pembalasan”

    Dalam ayat ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i, dan Ya’qub membacanya dengan  huruf mim dibaca panjang (mad). Sedangkan para qari yang lain membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Meski bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik  bermakna Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada.  Tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT.
    Menurut Ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi, ayat tersebut berarti “yang memutuskan di hari perhitungan.”  Menurut Qatadah, kata ad-din (الدين) berarti pembalasan. Dalam hal ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari ketika tak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama.” Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti ketaatan. Dengan demikian, yaum ad-din berarti hari ketaatan. Saat itu, hanya ketaatan hamba kepada Tuhan yang menyelamatkannya dari siksaan neraka.
    ·         Ayat ke lima
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة : 5]
    “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”

    Dengan kalimat hanya kepada-Mu kami menyembah (إِيَّاكَ نَعْبُدُ), Allah membatasi penyembahan atau ibadah hanya kepada Diri-Nya semata. Dengan ayat tersebut, kita pun harus memutuskan bahwa ibadah hanyalah satu-satunya kepada Allah. Tidak boleh ibadah tersebut dikait-kaitkan dengan selain Allah. Ibadah juga merupakan bentuk ketundukan manusia kepada Allah untuk mengikuti berbagai perintah dan larangan-Nya.
    Shalat merupakan bentuk ibadah yang paling dasar (asasi). Dalam hal ini, sujud merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah. Hal ini karena dalam bersujud, orang menundukkan wajahnya yang notabene merupakan bagian tubuh yang paling dimuliakan. Saat bersujud, orang menempelkan wajahnya di atas lantai yang notabene merupakan tempat yang biasa diinjak-injak oleh kaki. Apalagi di dalam shalat, terutama shalat berjamaah, ketundukan seseorang kepada Allah juga dipertontonkan kepada semua orang.
    Ditempatkannya kalimat “permintaan tolong” (نَسْتَعِينُ) setelah kalimat “penyembahan” (نَعْبُدُ) juga merupakan bentuk pengajaran Allah kepada manusia tentang sopan santun. Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya terlebih dahulu. Setelah kita beribadah kepada-Nya, barulah kita pantas untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan kata lain, sudah selayaknya, orang meminta sesuatu setelah ia terlebih dahulu mengerjakan apa yang diperintahkan. Sangat tidak pantas jika seseorang meminta segala sesuatu terlebih dahulu padahal ia belum melaksanakan apa yang diperintahkan.

    ·         Ayat ke enam
    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) [الفاتحة : 6]  
    “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

    Menurut Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan “jalan yang lurus” (xالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah. Dalam riwayat lain “jalan yang lurus” itu adalah agama Islam. Selain itu, ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ia berarti “al-haqq” (kebenaran). Dengan demikian, menurut Ibnu Abbas lagi, kalimat “tunjukkan kami jalan yang benar” berarti “berilah kami ilham tentang agama-Mu yang benar, yaitu tiada tuhan selain Allah satu-satunya; serta tiada sekutu bagi-Nya.
    Kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) dalam ayat di atas mempunyai tiga macam cara membaca (qiraat). Pertama, mayoritas qari, membacanya dengan dengan huruf shad, sebagaimana yang tercantum dalam mushaf Utsmani.Kedua, sebagian lain membacanya dengan huruf siin, sehingga menjadi (السِرَاط).  Ketiga, dibaca dengan huruf zay (ز), sehingga menjadi (الزِراَط). Sedangkan menurut bahasa, seperti dikatakan at-Thabari, kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) berarti jalan yang jelas dan tidak bengkok.

    Kataاهْدِنَا  berasal dari akar kata hidayah (هداية). Menurut al-Qasimi, hidayah berarti petunjuk –baik yang berupa perkataan maupun perbuatan– kepada kebaikan. Hidayah tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan. Hidayah pertama diberikan Allah kepada manusia melalui kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan. Hidayah kedua adalah melalui diutusnya para Nabi. Macam hidayah ini terkadang disandarkan kepada Allah, para rasul-Nya, atau Alquran. Hidayah tingkatan ketiga adalah hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya yang karena perbuatan baik mereka. Hidayah keempat adalah hidayah yang telah ditetapkan oleh Allah di alam keabadian. Dalam pengertian hidayah keempat inilah, maka Nabi Muhammad tidak berhasil mengajak sang paman, Abi Thalib, untuk masuk Islam.

    ·         Ayat ke tujuh
    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 7]
    “ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

    Ayat ini merupakan penjelasan dan tafsir dari ayat sebelumnya tentang apa yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ). Jadi, yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” adalah “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”. 
    Sedangkan yang dimaksud dengan “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri anugerah kepada mereka, lalu Allah pun menjaga hati mereka dalam Islam, sehingga mereka mati tetap dalam keadaan Islam. Mereka itu adalah para nabi, orang-orang suci, dan para wali. Sedangkan, menurut Rafi’ bin Mahran, seorang tabi’in yang juga dikenal dengan nama Abu al-Aliyah, yang dimaksud dengan “orang-orang yang Engkau beri nikmat itu” adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabat beliau, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Selanjutnya, yang dimaksud dengan “bukan jalan mereka yang dimurkai” (غير المغضوب عليهم) adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai oleh Allah dan mendapatkan kehinaan karena melakukan berbagai kemaksiatan. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat (الضالين) pada lanjutan ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Tafsir bahwa orang-orang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang sesat adalah Nasrani sudah disepakati oleh banyak para ulama dan diuraikan di dalam beberapa hadis dan ayat-ayat Alquran sendiri.


    BAB III
    PENUTUP

    A.   Kesimpulan
    Surat Al-Fatihah bukan semata-mata bacaan untuk beribadah saja, tetapi juga mengandung bimbingan untuk membentuk pandangan hidup setiap muslim.
    iyah sudah ditunjukkan keberadaannya dalam ayat, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari perbuatan mereka. Kemudian pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah. Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk mengharap ridha Allah yang disertai kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah SAW. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya kecuali kepada Allah. Dan pada ayat, “Ihdinash shirathal mustaqim” yang merupakan doa yang termasuk jenis ibadah. Doa ini merupakan permintaan seorang hamba untuk mendapatkan petunjuk menuju jalan lurus. Adapun tauhid rububiyah, ia juga sudah terkandung di dalam ayat, “Rabbil ‘alamin.”
             B.     Saran 

    Hal itu disebabkan Allah adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Pada ayat “Maliki yaumiddin” Allah adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apapun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dialah Raja yang menguasai dunia dan akhirat.
    Sedangkan tauhid asma’ wa shifat, maka sesungguhnya ayat kedua telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama itu adalah Allah dan Rabb sebagaimana di dalam ayat, “Rabbil ‘alamin”. Pada ayat ini kata ‘alamin adalah segala makhluk selain Allah. Allah dengan dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dialah Sang Pencipta. Sedangkan semua selain diri-Nya adalah makhluk.




    DAFTAR PUSTAKA

    Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, op. cit., juz 1,  hal. 136.
    Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim,(Beirut: Dar al-Fikr, 1994), juz 1, hal. 101.
    Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994).
    Muhammad bin Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H), juz 1, hal. 206.

  • PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

    0
    BAB 1
     PENDAHULUAN

    1.1    Latar Belakang
           Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disemua jenjang pedidikan yang memiliki peran yang sangat penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam berbagai pihak yaitu pendidik, pemerintah, orang tua, maupun masyarakat, karena pembelajaran matematika di Sekolah Dasar merupakan peletak konsep dasar yang dijadikan landasan untuk belajar pada jenjang berikutnya, selain itu penguasaan matematika yang kuat sejak dini diperlukan untuk pengusaan dan penciptaan tekhnologi di masa depan.
         Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa adalah sebagai subyek dan objek dari
  • Baper

    0
    "Rasa apakah ini...
    pisau tak menyakiti kulitku...
    tapi aku merasa perih...
    api tak melukai tubuhku...
    tapi membara menyelimuti...
    mungkinkah ini cinta...?
    pada dia yang sudah ada yang punya..."


    https://www.instagram.com/p/BTEPZ2GBykw/
  • Copyright © - Pendidikan Matematika Kebutuhanku

    Pendidikan Matematika Kebutuhanku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan